Total Pageviews

Dec 25, 2010

Dear Myself #2

Berat, susah, tak sanggup, lelah, muak, ingin menyerah. Kata-kata konyol. Tapi manusiawi. Sering terngiang-ngiang dan hilir mudik di kepala saya akhir-akhir ini.

Lalu, saya melihat,
Di ujung bumi sebelah sana, ada anak-anak yang kelaparan mengais-ngais sisa nasi di tong sampah.
Di ujung bumi sebelah sana, ada anak-anak yang menggigil basah kuyup menahan dinginnya angin malam di tengah hujan, menawarkan jasa sewa payung dengan imbalan yang tak seberapa.
Di ujung bumi sebelah sana, kakek nenek renta bersusah payah menarik gerobak berisi dagangan yang tak seberapa di tengah teriknya panas, demi menjamin akan ada yang dimakan nanti malam.
Di ujung bumi sebelah sana, anak-anak cemerlang pewaris masa depan memandang nestapa rombongan anak-anak lain yang berseragam, mengintip diam-diam dari balik jendela luar kelas, memimpikan satu kata ‘sekolah’.
Di ujung bumi sebelah sana, orang-orang kehilangan harta, orang-orang tercinta, bahkan masa depan, disapu bencana dan malapetaka.

Melihat semua itu, masihkah kata-kata konyol itu tersirat di benak saya?

Surat dari Perempuan Hebatku

Kutitipkan dirimu kepadaNya, yang senantiasa mengurus hambaNya.
Pesanku, hati-hati menjaga dan membawa diri.
Bertakwalah kepada Allah.
Sembahlah Dia dengan sebaik-baiknya.
Tautkan hatimu padaNya di setiap saat.
Dekatkan dirimu kepadaNya di kala kamu senang, insyaAllah Allah akan mengingat dirimu di kala susah.
Semangat dan semangat, agar Allah mengabulkan apa yang kamu cita-citakan.



*dikutip dari surat Ibuk yang sampai malam ini bersama sekotak sambel pecel

金沢国際交流会館315号
10.27 p.m.

Setahun Kemarin

Tepat setahun....lebih beberapa jam ding....
Jadi inget saya setahun yang lalu: ndeso, takjub liat sana sini, selalu salah naik bis --bahkan bis menuju kampus--, nyasar kalo kemana-mana, salah pencet tombol-tombol yang semuanya ditulis dalam sandi rumput yang bergoyang, mual-mual overdosis melihat kanji dimana-mana, pucat pasi kalo diajak ngomong orang sini karena sama sekali ga ngerti apa yang mereka omongin, jadi yang paling oon di kelas dan cuman bisa bengong kalo disuruh jawab pertanyaan sensei atau harus praktek conversation dengan teman sekelas....

Saya yang sekarang....sudah seperti apa ya? Apa sudah banyak perubahan dan menjadi lebih baik? Atau masih begitu-begitu saja? Atau malah berubah menjadi lebih buruk? Semoga saja tidak.... T.T

Tak terasa, benar-benar tak terasa....sudah setahun ternyata....
Sudah mengalami kehilangan payung tiap bulan di musim gugur....
Pernah terperosok, terpeleset, terjungkal dan jungkir balik di atas salju musim dingin....
Menatap takjub mekarnya bunga-bunga Plum, Sakura, Peach, dan Azaleya di musim semi....
Menjalankan puasa ramadhan pertama, lebaran pertama, sekaligus tenggelam di sungai yang dalamnya sepinggang di musim panas....
Banyak hal yang sudah dilalui, tapi masih banyak hal juga yang harus dijalani...

Semoga Allah selalu memberi saya petunjuk, di setiap detik yang saya jalani, dimanapun saya berada....

2010, Oct 1st
金沢国際交流会館

Ini Tentang Kalian

Dalam ranah yang mereka sebut keabadian
Aku bersemayam bersama ingatan tentang kalian
Kudekap dan kuucap namamu satu demi satu
Sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu

Walau tiada aksara di sana
Walau tiada wujud yang serupa
Tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua
Sebagaimana engkau semua menemukanku

Empat, lima, dan enam
Berapapun banyaknya kita tersempal
Perlahan lebur menjadi tunggal
Dua, satu, dan kosong
Bersama kita lenyap menjadi tiada
Dalam ranah yang mereka sebut kehidupan,

Aku dan kalian menangis dan meregang di antara ruang
Aku dan kalian tersesat dalam belantara nama dan rupa
Masihkah kau mengenali aku?
Masihkah aku mengenalimu?

Jiwa kita tertawa dan berkata:
Berjuta kelahiran dan kematian telah kita dayakan,
Berjuta kata dan sabda telah kita ucapkan,
Berjuta wadah dan kaidah telah kita mainkan,
Hanya untuk tahu tiada kasih selain cinta
Dan tiada jalinan selain persahabatan

Meski tak terkira banyaknya nama dicipta
Meski tak terhingga rasa menjadi pembeda
Aku akan menemukanmu semua,
Sebagaimana engkau semua menemukanku

Sahabat, jika kita berpecah raga
Satu, jika kita memadu raga
Tiada, jika hanya jiwa

Inilah kenangan yang kucuri simpan
Saat kubersemayam dalam ranah yang mereka sebut keabadian
Inilah kenangan yang kusisipkan di sela-sela mentari dan bulan
Yang kelak mereka bisikkan saat kucari kalian
Dalam belantara yang dinamai kehidupan

Ingatan pertama dan terakhir
Yang mengikuti saat aku terlahir
Yang bersembunyi hingga kalian semua hadir
Yang menemani saat udara usai mengalir

Cinta dan sahabat
Sahabat dan cinta
Itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana
Sisanya fana


Merantaulah

By: Imam Syafii

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang
Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan



Kerendahan Hati

karya :Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan 

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya....
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu....Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri...

Menyusuri Jalan Takdirnya

Menyusuri jalan takdirNya
Rentetan skenario yang telah tertuliskan dengan sempurna
Rencana-rencana rahasia yang telah disiapkanNya
Susunan teka-teki dan rahasia hidup yang hanya Dia yang tahu jawabannya

Menyusuri jalan takdirNya
Kadang menanjak, kadang melandai
Tak jarang tebing terjal dan jurang dalam di kiri kanannya
Kadang diselingi taman indah dengan kupu-kupu cantik beterbangan diantara bunga

Menyusuri jalan takdirNya
Kuakui, kadang melelahkan
Bersabar atas sesuatu yang tak nampak sama sekali di depan mata
Meyakinkan hati bahwa yang terbaik adalah pilihanNya

Menyusuri jalan takdirNya
Bukan sesekali diselingi dengan keluh kesah, duka, dan air mata
Adalah hal biasa hati berontak dan kadang bertanya-tanya
Bertanya kenapa peran ini, kenapa scene ini, kenapa judul ini, yang diberikanNya

Menyusuri jalan takdirNya
Tentu, tak selamanya duka
Pasti, tangis berganti tawa
Karena segalanya dicipta berpasangan
Karena disitulah tercipta keseimbangan

Duka-suka, tangis-tawa, lelah-lega, sedih-bahagia
Mengajak manusia menjadi kuat
Menempa manusia menjadi istimewa
Menjadikan manusia benar-benar menjadi manusia

Jika kau lelah kawan, ketika menyusuri jalan takdirNya
Duduklah sejenak, beristirahatlah sebentar
Ambil nafasmu dalam-dalam, lalu bersandarlah
Ya, bersandarlah...
Bersandarlah padaNya Yang Maha Kuat
Mohonlah petunjukNya
Mengemislah cinta padaNya
Mintalah perlindunganNya
Dia yang menuliskan cerita hidup kita
Dia pula yang berkuasa mengubah segalanya
Karena hanya Dia yang mampu membimbing kita menyusuri jalan panjang dan melelahkan ini
Karena hanya Dia yang mampu mengobati lelahnya hati kita
Karena hanya Dia, yang setia menemani kita menyusuri jalan takdir ini....

金沢国際交流会館315号
2010年9月6日
1:24

Lautan Bintang Kita

Langit yang kupandang malam ini pasti tak sama dengan langit yang kau pandang. Langit yang kita pandang setiap malam. Dulu. Karena langit ini tak penuh bintang. Tak seperti langit yang kita pandang dulu. Nyaris setiap malam. Berdua saja.

Ketika aku merajuk tak mau tidur juga meski telah larut. Lalu kau menggendongku keluar. Meski lelah tampak jelas di matamu setelah seharian bekerja.Dengan senyuman kau menimangku dalam hangatnya pelukanmu. Sambil mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang masih sangat kuingat meski berpuluh tahun telah berlalu. Lalu kau menunjuk ke langit. Menunjuk ke lautan bintang. Dan kita memandang lautan bintang itu. Berdua saja.

Saat aku mulai suka membaca buku-buku tentang bintang, dan mulai banyak bertanya. Kau perkenalkan satu rasi bintang di selatan. Rasi bintang yang menjadi penunjuk arah para pelaut yang tersesat, petualang yang tersasar. Rasi bintang yang telah dikenal berabad-abad, dan yang paling kuingat seumur hidupku. Karena itu penunjuk arahku kepadamu. Ke tempat pulangku. Di selatan.

Saat aku beranjak dewasa, meski tak sesering dulu, sesekali kita masih memandang lautan bintang di langit itu. Sambil sekedar berjalan dan membicarakan hal-hal ringan. Membicarakan masa lalu, saat itu, dan masa depan. Masih dibawah langit dengan lautan bintang itu.

Aku merindumu sangat. Dengan jumlah rindu melebihi jumlah bintang di langitku malam ini. Aku mencintaimu sangat. Dengan cinta seperti cahaya bintang itu. Cahaya yang sampai padamu, meski bintang itu tak lagi di sampingmu.

Bintang yang hanya satu dua muncul malam ini, tolong titip rindu dan cintaku untuknya. Untuknya yang setiap saat memelukku lewat doa. Doa yang terucap dengan linangan air mata di sepertiga malamnya. Doa yang hanya menjadi rahasianya dan Sang Pengabul Doa. Doa yang selalu memelukku hangat, menguatkan, meneguhkan, dan melingkupiku dengan cintanya. Tolong, sampaikan rindu dan cintaku pada perempuan mulia yang paling kuhormati dan kucintai di dunia ini. Perempuan hebat bernama 'IBUK'.

100807- Ketika memandang langit di matsuri di Okuwa.

世界に一つだけの花 (牧原則之)

SMAP – The Only Flower Of Our Kind In The World

Lyrics: Makihara Noriyuki

“You don’t need to be No.1 since you’ve always been the only one”

I looked at the various flowers
Lined up at the front of the florist
Everyone has their own favorite
But they’re all beautiful
You don’t need to argue
Which is the best one of them all
They’re all in their buckets
Standing tall and proud

Yet I wonder why we humans
Feel the need to compare
Even though we’re all different
Do we all want to be number one?

That’s right, we are…

*The only flower of our kind in this world
Everyone has their own unique seeds
We should just try our best
To make those flowers bloom

There’s someone smiling like they’re confused
As they struggle over which one to buy
All the flowers that have struggled to bloom
Are pretty so it seems there’s no choice
That person finally exited the store
Carrying a bouquet
Of flowers in various colors
And had a happy look on their face

I didn’t know their name
But they put a smile on my face that day
Like a flower that bloomed
Where no one ever noticed

That’s right, we are also…

(Repeat*)

Small flowers and big flowers
Each one is unique
You don’t need to be No.1
You’ve always been the only one




世界に一つだけの花


花屋の店先に並んだ
いろんな花を見ていた
ひとそれぞれ好みはあるけど
どれもみんなきれいだね
この中で誰が一番だなんて
争うこともしないで
バケツの中誇らしげに
しゃんと胸を張っている


それなのに僕ら人間は
どうしてこうも比べたがる?
一人一人違うのにその中で
一番になりたがる?


そうさ 僕らは
世界に一つだけの花
一人一人違う種を持つ
その花を咲かせることだけに
一生懸命になればいい


困ったように笑いながら
ずっと迷ってる人がいる
頑張って咲いた花はどれも
きれいだから仕方ないね
やっと店から出てきた
その人が抱えていた
色とりどりの花束と
うれしそうな横顔


名前も知らなかったけれど
あの日僕に笑顔をくれた
誰も気づかないような場所で
咲いてた花のように


そうさ 僕らも
世界に一つだけの花
一人一人違う種を持つ
その花を咲かせることだけに
一生懸命になればいい


小さい花や大きな花
一つとして同じものはないから
NO.1にならなくてもいい
もともと特別なOnly one

Imajiner Doa

Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis: 

"Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh.
Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku."

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah:

"Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat 
mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku 
yang tidak pernah putus."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir:

"Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami 
yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah...."

Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku sudah mulai sekolah:

"Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral 
Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.."

Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku sudah beranjak remaja: 

"Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yg 
mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat 
buah yang sedang ranum."

Doa yang kupanjatkan ketika anak2ku menjadi dewasa: 

"Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, 
yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga 
kami."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah: 

"Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan 
perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya." 

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan:

"Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama 
pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria 
wibawaku sebagai ibu dari ibunya cucuku." 

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata..... 

"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh sudahkah engkau sendiri baik 
dan sholehah? 
Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?" 

"Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada 
suamimu. Jangan egois begitu...... masak engkau ingin anak yang 
sholehah hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. ....
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang
mereka ikuti haruslah aturan-Ku." 

"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?...... 
prestige? ........ atau....mode? .....atau engkau tidak mau direpotkan 
dengan mendidik Islam padanya? engkau juga harus belajar, engkau juga 
harus bermoral Islami, engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha 
mengkhatamkannya. " 

"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan 
mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat? 
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan 
umat-Ku." 

"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu, seolah engkau 
tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku. Percayalah 
kalau anakmu adalah anak yang sholihah maka yang sepadanlah yang dia 
akan dapatkan." 

"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu. Aku yang 
memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya. Aku tetap 
mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia 
melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. .. " 

"Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu, berilah 
kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi 
amanahnya."

Lantas...... aku malu...... dengan imajinasi do'a-ku sendiri.... 
Aku malu akan tuntutanku kepada-NYA.. . ..... 

Maafkan aku ya Allah...... 

oleh: Ratih Sanggarwati