Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Disimpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
(Sore Tugu Pancoran, by Iwan Fals)
Kisah 1
Seorang anak, usia belasan tahun, hitam, kurus, tak terurus. Tinggal di Afrika, piatu, dan sang ayah bekerja di kota dengan penghasilan yang tak seberapa. Tinggal bersama tiga saudaranya dan neneknya, harus bekerja setiap hari sebagai pendulang intan untuk menghidupi keluarga. Pendapatannya hanya kira-kira 100 Yen (= Rp10.000) per butir intan yang berhasil didapatkan, dan hanya cukup untuk makan sekali sehari. Jika dia tak dapat intan, berarti dia takkan dapat seratus yen itu. Dan tak setiap hari tentunya intan dapat ia temukan.
Sempat merasakan kemewahan dunia bernama sekolah. Tapi tak sampai berapa tahun SD ia kecap, kemiskinan melemparkannya pada kenyataan hidup, bahwa suara keroncongan di perutnya dan tiga saudaranya serta neneknya, jauh lebih penting dibandingkan haus jiwanya akan pendidikan. Benar, dia memang melepaskan dirinya dari rutinitas sekolah, tapi tak berarti dia melepaskan mimpi untuk bersekolah dari genggamannya. Tangan kurus, kasar, dan kapalan itu, sangat kuat menggenggam mimpi itu, sekuat genggamannya pada ayakan pendulang intan.
Ketika ditanya apa impian terbesarnya, katanya “Gakkou ni hairitai desu”. Saya ingin sekolah. Sangat. Dia anak yang cerdas, bisa lancar berbahasa Inggris. Dari mana dia bisa berbicara bahasa Inggris? Jawabnya sederhana kawan, tapi bagiku sangat luar biasa. Dari buku matematika yang diberikan kakak kelasnya kepadanya. Bayangkan, dia tidak belajar bahasa Inggris dari buku bahasa Inggris, tapi dari buku matematika. Katanya, buku itu adalah buku pelajaran dalam bahasa Inggris, dan setiap hari (sepulang bekerja tentunya) dia membaca buku itu, terus menerus, kemudian menyalinnya. Setiap hari, sampai dia faham dan hafal maksud dari kata-kata dalam buku teks tersebut. Wonderful, Masya Allah.....
(Seperti diceritakan Sensei Bahasa Jepang saya, berdasarkan program yang beliau tonton di salah satu stasiun televisi di Jepang)
Kisah 2
Kisah ini pasti sudah pernah kau dengar kawan. Kisah mengharukan tentang seorang bocah 6 tahun yang mengurus ibunya yang lumpuh sendirian selama lebih dari 2 tahun. Ya, ini kisah tentang Sinar. Bocah 6 tahun kelas 1 SD, yang menyindir kekerdilan mental kita menghadapi kerasnya kehidupan. Betapa, anak sekecil itu sudah sedemikian mengerti arti berbakti, tanggung jawab, dan hidup.
Seorang diri mengurus sang ibu yang lumpuh, selama 2 tahun, mulai dari memasak, memandikan, menyuapi, mencucikan pakaian, semuanya dilakukan sendiri. Sering harus terlambat ke sekolah karena harus mengurus sang ibu. Tapi satu hal kawan, apakah kau lihat binar kesusahan di mata anak itu? Apakah kau lihat gurat kelelahan, keluhan, atau gugatan kepada Tuhan atas garis hidup yang harus dia tempuh? Entahlah, tapi aku tak melihatnya kawan. Yang kulihat hanya sinar mata polos bocah 6 tahun, dan pancaran kasih sayang seorang anak kepada sang bunda. Hanya itu yang kulihat.
Kisah 3
Seorang bocah, ya....lagi-lagi seorang bocah. Aku lupa persis umurnya, tapi sekitar SD kelas 5. Menempuh jarak 5 kilometer berjalan kaki (kalau aku tidak salah ingat, maklum, cerita ini sudah sangat lama diceritakan padaku) bolak-balik sambil memanggul keranjang berisi batu kali untuk dijadikan bahan bangunan. Puluhan kilo itu dipanggul tubuh kurus dan hitam, dengan imbalan 50 perak untuk setiap batunya. Kawan, dia melakukannya untuk satu alasan. Sekolah. Kata-kata mewah yang semakin hari semakin mewah. Aku tak bias membayangkan berapa rupiah yang sanggup dipanggul tubuh kecil itu setiap harinya? Betap kerasnya ia pada impiannya. Betapa mewahnya kata-kata yang sering menjadi mimpi buruk bagi sebagian anak-anak seusianya. (Seperti diceritakan kakak kelas SMA, beberapa tahun yang lalu).
Kisah 4
Kisah ini nyata atau fiktif, Allahu’alam. Hanya penceritanya saja yang bias menjawab. Tapi lepas dari nyata atau fiktif, ini adalah kisah yang sebenarnya banyak kita jumpai di sekitar kita. Bocah itu bersepatu bekas ban, dengan bau karet panas yang menusuk. Rambut ikalnya memerah, berpadu dengan tubuh kurus ceking dan kulit legam. Tapi sumber magnet dari anak laki-laki itu bukan pada sepatu karetnya, atau rambut merahnya, pun kulit legam dan tubuh cekingnya. Magnet itu ada di matanya. Mata yang tak pernah diam, tak pernah mati, tak pernah kosong. Menandakan pikiran sang pemilik mata jenius itu yang tak pernah sepi dari dentingan pertanyaan, susunan mozaik jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam semesta, dan rasa haus tak hingga akan ilmu pengetahuan.
Delapan puluh kilometer setiap hari ditempuh dengan bersepeda, berpapasan dengan buaya dan mara bahaya. Tanpa seharipun absen. Dan semuanya untuk satu alasan itu kawan, sekolah. Tapi cintanya yang begitu besar itu harus rela ia lepaskan dari genggaman, memasrahkannya kepada nasib ketika sang Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga harus meninggalkannya dan keluarganya untuk selama-lamanya. Ialah yang akhirnya menjadi tumpuan hidup keluarganya. Bukan tak ikhlas ia lepaskan sekolahnya, tapi seandainya ia bias memilih, tentu pilihan tersulit adalah melepaskan impiannya itu. Namanya Lintang, kawan. Pernahkah kau dengar nama itu?
(Dari buku Sang Pemimpi, Andrea Hirata).
Kisah 5
Kali ini kisah tentang seorang gadis. Muslimah. Bekerja menjadi pemulung sejak kecil hingga SMA, dijalani bukan tanpa beban tentunya. Tapi ketabahan dan penerimaannya akan kenyataan hidup yang harus dijalani, dengan kondisi ekonomi keluarga yang jauh di bawah ‘menengah’, beberapa orang adik yang masih harus sekolah dan makan, membuatnya mejnadi istimewa di mata saya. Ayahnya bekerja tentu saja, serabutan dengan penghasilan yang tak seberapa. Ibunya, dia, dan adik-adiknya menjadi pemulung untuk menyambung hidup dan mempertahankan status sebagai ‘siswa’.
Saya bayangkan, di Jakarta, dengan kehidupan yang sama sekali jauh dari ramah, seorang gadis SMA memulung sampah setiap pulang sekolah. As a girl, I can’t imagine how her feeling was. Adakah ejekan dari teman-temannya? Hm, itu bukan alasan yang cukup untuk membuatnya berhenti berangkat sekolah. Tentu saja. Karena dia memulung untuk sekolah. Keinginan besar itu, tak akan bias dengan mudahnya diruntuhkan oleh sekedar ejekan anak-anak-kota-sok-gaya yang sudah kehilangan empatinya. Dan, kehausannya mereguk segarnya mata air pengetahuan tak cukup hanya sampai SMA. Diapun kuliah kawan. Tetap memulung, dan menjadi penjaga kantin di universitasnya. Setiap minggu pulang ke rumahnya, tetap sambil memulung di sepanjang jalannya. Dia tidak naik angkot kawan, meski jarak rumah dan kampusnya cukup jauh, terlalu jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. But she does, she walks every time she goes home. Subhanallah....(Dari salah satu artikel, tapi saya lupa sumbernya....)
Kisah-kisah diatas adalah ejekan kawan. Ejekan atas rasa malas yang sering kita perturutkan. Ejekan atas waktu yang sering kita hambur-hamburkan. Ejekan atas kerdilnya kita memandang kehidupan. Ejekan atas banyaknya hal yang kita keluhkan. Ejekan atas kesempatan yang sering kita sia-siakan. Tak jarang kita mengeluh dengan banyaknya tugas yang dosen berikan. Sering kita sengaja skip kelas, bolos, hanya sekedar menurutkan rasa malas. Berapa kali kita mengeluh dengan kehidupan kita yang sangat berkecukupan ini (jika dibandingkan dengan mereka)?
Saya ingat, Sensei bahasa jepang saya pernah berkata, “minna wa okanemochi desuyo” (kalian adalah orang-orang kaya lo). Coba lihat anak-anak di Afrika, mereka harus berpikir apa yang bisa saya makan hari ini, berpakaian seadanya, tak bersekolah. Sayapun jadi berpikir, anak-anak Palestina yang belajar di reruntuhan sekolah mereka dengan backsound dentuman bom dan rentetan peluru. Dengan resiko tertembus peluru atau menjadi ‘mainan’ serdadu-serdadu yang tak berhati itu sepulang sekolahnya. Tanpa makan dan minum yang cukup.
Lalu saya lihat diri saya sendiri, betapa saya telah kufur nikmat. Betapa saya telah lalai dari tanggung jawab. Betapa saya picik dengan hidup saya. Berapa kali dalam sehari saya mengeluh? Mengatakan sudah muak dengan kelas-kelas yang harus saya hadiri, dengan tugas-tugas yang harus saya kerjakan, dengan tes-tes setiap hari. Berapa kali saya berkata bosan? Dengan rutinitas yang menjemukan. Berapa jam dalam sehari yang saya pergunakan untuk kemanfaatan? Padahal dengan fasilitas yang sangat mencukupi. Dan kemudian pertanyaan itu muncul di pikiran saya. Pantaskan saya mendapatkan segala kenikmatan ini?
Kisah itu memang hanya lima. Tapi percayalah, puluhan, ratusan, ribuan kisah seperti itu nyata, kawan. Ada di sekitar kita. Benar-benar nyata. Kutulis kisah ini, sebagai pengingat kawan, untuk diriku sendiri terutama. Selelah-lelahnya kita, masih ada mereka yang jauh lebih kepayahan. Sebosan-bosannya kita, ada mereka yang bergelut dengan kerasnya kehidupan, tapi tak pernah merasakan bosan. Impian mereka sederhana kawan. Mungkin tak senjlimet rentetan perencanaan kita tentang masa depan. Tapi, harus kita akui, kita masih jauh, jauh kalah hebat dari mereka kawan. Dan mereka menunggu kita. Menunggu kita berbuat, menunggu kita bergerak. Jadi, masih pantaskan kita mengeluh?
Total Pageviews
Mar 21, 2010
Mar 7, 2010
Catatan Musim Dingin Season 1 : Yuki ga kirei dakedo, abunai to omou...
Musim dingin pertama di negerinya Doraemon, ada banyak hal yang menarik, dan tak sedikit juga yang menorak...hehehe...maklum, namanya juga orang udik, ndeso, katrok, dari negeri tropis, pertama kali merasakan musim es serut. Untungnya sendeso-ndesonya saya, ga sampe bawa gelas isi cendol keluar rumah pas salju pertama turun, ato guling-guling kayak orang ga waras di atas tumpukan salju (meski saya harus akui godaan untuk melakukannya amat sangat kuat, tapi demi menjaga martabat bangsa, negara, dan keluarga, ditahaaaannnn....huehehehee).
Indah banget pas pertama liat salju turun pelan-pelan dari langit. Melayang-layang pelan bak balerina menarikan danau angsa (hayah, berlebihan,,,,ini gara-gara dulu kebanyakan baca komik Marichan). Apalagi kalo menikmatinya sambil dengerin Canon in D major...wuah....serasa waktu benar-benar berhenti. Dalam khayalan, salju-salju itu benar-benar seperti menjelma menjadi para balerina yang dengan anggunnya menari sambil melayang-layang di udara. Jenius memang si Oom Johann Pachelbel...suki da...
Indah banget pas pertama liat salju turun pelan-pelan dari langit. Melayang-layang pelan bak balerina menarikan danau angsa (hayah, berlebihan,,,,ini gara-gara dulu kebanyakan baca komik Marichan). Apalagi kalo menikmatinya sambil dengerin Canon in D major...wuah....serasa waktu benar-benar berhenti. Dalam khayalan, salju-salju itu benar-benar seperti menjelma menjadi para balerina yang dengan anggunnya menari sambil melayang-layang di udara. Jenius memang si Oom Johann Pachelbel...suki da...
Keindahan kedua, melihat semuanya berselimut putih. Semuanya. Atap rumah, atap mobil, atap bus, jalanan, pepohonan, gunung. Semuanya putih. Apalagi kampus saya yang memang nggunung, pemandangannya Subhanallah....luar biasa indah. Gimana cara menggambarkannya lewat kata-kata ya? mungkin cuman ini kata-kata yang cocok : Subhanallah, MasyaAllah, Allahuakbar,,,,,Alhamdulillah...
Hal menyenangkan lainnya, saya bisa bikin boneka salju. Mungil sih, maklum bikinnya pun dari salju di balkon kamar, di akhir pekan, sendirian, menggeje... Tutor pernah ngajakin buat bikin boneka salju "beneran", tapi tampaknya karena kesibukan (maksutnya si Tutor yang sibuk, kalo saya mah sok sibuk, sibuk tidooorr.... :D), belum sempat terealisasi di musim dingin pertama saya ini. Meski bentuknya kayak snowman abis kelindes truk, trus keinjek godzilla, lumayan kiyut dan imut .
Dan tak sampai 24 jam utuh saya begitu mengagumi salju, saya sudah komplain. Memang dasar manusia, ga pernah bisa bersyukur lama-lama. Dan sepertinya komplain terhadap si balerina ini lebih banyak dari kekaguman saya terhadapnya.
Pertama, saya harus berjalan ekstra super duper hati-hati. Salah jalan sedikit saja, bisa bikin kepleset dan jungkir balik. Itu kalo jalan di salju yang keras. Apesnya lagi kalo jalan di salju yang tebal menipu. Bisa-bisa kejeglong (istilah bahasa indonesianya apa ya? Terperosok? Entahlah, nilai pelajaran bahasa indonesia saya ga pernah lebih dari 7...) dan masuklah si es serut itu ke sepatu. Dingiiiin.
Kedua, mungkin bukan hanya salah si es serut, tapi mungkin memang di tempat tinggal saya sekarang ini anginnya hobi sprint. Kuenceng bak Shinkansen. Kadang pas jalan, rasanya kayak mau terbang. Alamat muka sakit ditampar-tampar ama duet maut Salju sang Balerina dan Angin si Sprinter. Pernah satu malam, sepulang dari kampus, saya harus berjalan dari stasiun sampai ke kos-kosan. Kira-kira 10-15 menitan. Salju lagi banyak-banyaknya, dan angin sedang kencang-kencangnya. Mustahil pake payung. Percuma. Karena akan berakhir dengan patahnya si payung, karena ga kuat menahan kencangnya angin, ato saya akan muncul di berita esok pagi gara-gara diterbangkan angin. Yo wes, jalanlah dengan nekat, sambil bawa belanjaan berat, malam-malam, kelaparan, kelelahan jiwa raga, tanpa payung, menembus serunya duet maut salju dan angin (weh,,,kok melas men yo...). Sampai rumah Alhamdulillah dengan selamat. Tapi bentukku udah mencong-mencong ga jelas....duhai...
Ketiga, di musim dingin, orang-orang cenderung tidak menggunakan mobil sebagai sarana transportasi. Masuk akal, karena salju yang menutup jalan akan membuat jalanan sangat licin. Memang ada air hangat yang selalu disemprotkan ke jalan untuk mencairkan salju, tapi itu tak cukup membantu, dan tampaknya justru membuat jalanan semakin licin. Alhasil, 'saingan' saya untuk naik bus jadi bertambah berlipat-lipat. Berangkat lebih pagi ato harus bersabar mengantri bus, dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya (yang sialnya rata-rata jarang mandi pagi....maklum, dingin...). Dan bus akan berjalan sangat pelan bak keong kelaparan di tengah padang sahara. Yang biasanya 30 menit sampe kampus, bisa jadi hampir sejam baru nyampe. Abunai memang jalanan yang basah, licin, rawan terjadi kecelakaan.
Keempat, saya jadi jarang liat Sunny (yang suka dipanggil-panggil ama mba BCL tea...). Matahari jadi sangat pemalu di musim ini. Padahal saya sangat cinta sama si Taiyou ini, secara orang tropis, ekstrimnya no sun no life lah....Semuanya tampak seperti film jaman kemerdekaan dulu. Hitam, putih, dan abu-abu. Tapi itu justru membuat saya semakin menikmati matahari pertama di akhir musim dingin. Alhamdulillah, nikmatNya yang manakah yang akan saya dustakan?
Dan kelima, saya terserang penyakit Shimoyake di sepanjang musim dingin di sini. Hm, makan apa pula shimoyake itu??? Monggo silahkan diihat di sini.
Dan tak sampai 24 jam utuh saya begitu mengagumi salju, saya sudah komplain. Memang dasar manusia, ga pernah bisa bersyukur lama-lama. Dan sepertinya komplain terhadap si balerina ini lebih banyak dari kekaguman saya terhadapnya.
Pertama, saya harus berjalan ekstra super duper hati-hati. Salah jalan sedikit saja, bisa bikin kepleset dan jungkir balik. Itu kalo jalan di salju yang keras. Apesnya lagi kalo jalan di salju yang tebal menipu. Bisa-bisa kejeglong (istilah bahasa indonesianya apa ya? Terperosok? Entahlah, nilai pelajaran bahasa indonesia saya ga pernah lebih dari 7...) dan masuklah si es serut itu ke sepatu. Dingiiiin.
Kedua, mungkin bukan hanya salah si es serut, tapi mungkin memang di tempat tinggal saya sekarang ini anginnya hobi sprint. Kuenceng bak Shinkansen. Kadang pas jalan, rasanya kayak mau terbang. Alamat muka sakit ditampar-tampar ama duet maut Salju sang Balerina dan Angin si Sprinter. Pernah satu malam, sepulang dari kampus, saya harus berjalan dari stasiun sampai ke kos-kosan. Kira-kira 10-15 menitan. Salju lagi banyak-banyaknya, dan angin sedang kencang-kencangnya. Mustahil pake payung. Percuma. Karena akan berakhir dengan patahnya si payung, karena ga kuat menahan kencangnya angin, ato saya akan muncul di berita esok pagi gara-gara diterbangkan angin. Yo wes, jalanlah dengan nekat, sambil bawa belanjaan berat, malam-malam, kelaparan, kelelahan jiwa raga, tanpa payung, menembus serunya duet maut salju dan angin (weh,,,kok melas men yo...). Sampai rumah Alhamdulillah dengan selamat. Tapi bentukku udah mencong-mencong ga jelas....duhai...
Ketiga, di musim dingin, orang-orang cenderung tidak menggunakan mobil sebagai sarana transportasi. Masuk akal, karena salju yang menutup jalan akan membuat jalanan sangat licin. Memang ada air hangat yang selalu disemprotkan ke jalan untuk mencairkan salju, tapi itu tak cukup membantu, dan tampaknya justru membuat jalanan semakin licin. Alhasil, 'saingan' saya untuk naik bus jadi bertambah berlipat-lipat. Berangkat lebih pagi ato harus bersabar mengantri bus, dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya (yang sialnya rata-rata jarang mandi pagi....maklum, dingin...). Dan bus akan berjalan sangat pelan bak keong kelaparan di tengah padang sahara. Yang biasanya 30 menit sampe kampus, bisa jadi hampir sejam baru nyampe. Abunai memang jalanan yang basah, licin, rawan terjadi kecelakaan.
Keempat, saya jadi jarang liat Sunny (yang suka dipanggil-panggil ama mba BCL tea...). Matahari jadi sangat pemalu di musim ini. Padahal saya sangat cinta sama si Taiyou ini, secara orang tropis, ekstrimnya no sun no life lah....Semuanya tampak seperti film jaman kemerdekaan dulu. Hitam, putih, dan abu-abu. Tapi itu justru membuat saya semakin menikmati matahari pertama di akhir musim dingin. Alhamdulillah, nikmatNya yang manakah yang akan saya dustakan?
Dan kelima, saya terserang penyakit Shimoyake di sepanjang musim dingin di sini. Hm, makan apa pula shimoyake itu??? Monggo silahkan diihat di sini.
Catatan Musim Dingin Season 2 : Tentang Shimoyake
Pertama-tama, sudilah kiranya untuk mengizinkan saya untuk supaya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, beribu-ribu, berjuta-juta, kepada musim dingin ini (maaf, kumat....).
Alhamdulillah, jadi dapet ilmu baru dari musim dingin ini. Bener kata wong-wong londo "no pain no gain". Kalo kata simbah mbiyen "Jer basuki mowo panas...eh salah...Jer basuki mowo beo". Dari awal musim dingin, sampai beberapa hari kemarin, saya menderita "pain" dan harus "mowo beo", tapi akhirnya malah dapet ilmu baru.
Sejak memasuki musim dingin, kaki saya, dan tangan kadang-kadang, membengkak, memerah, dan sering tiba-tiba teramat sangat gatal, terutama kalo berada di dalam ruangan dengan heater menyala di posisi high. Saya ga ngerti kenapa. Awalnya saya pikir karena sepatu saya terlalu tight, sesek, jadi kakinya protes (betapa kerdilnya pemikiran saya ya...huehehehe...ga ada ilmiah-ilmiahnya...). Saya coba ganti pake sepatu satunya lagi yang agak-agak longgar. Ga ada perubahan. Lalu saya coba tiap malam saya rendam kaki saya di air kembang tujuh rupa, tetep ga ada perubahan (yang ini jelas bohong :p). Tak kehabisan akal, saya rendam kaki di air hangat. Agak mendingan, tapi pas keluar dari air, rasanya makin cekit-cekit, trus besoknya kembali membengkak, memerah, dan menggatal seperti semula. Paling menderita kalo cekit-cekitnya menggila di tempat yang tidak semestinya, misalnya di tengah-tengah kelas atau seminar. Rasanya cekit-cekitnya sampe ke otak (susah kan, gimana coba cara nggaruk otak?). Lha mustahal bin mustahil juga kan saya buka sepatu trus garuk-garuk, kesannya kok kutu air dipamer-pamerin...hehehe...
Saya coba tanya teman saya di kampung halaman, mungkin saya bisa dapat jawaban yang ilmiah. Tentunya teman saya jauuuuh lebih logis, ilmiah, dan cerdas dari saya.... Kata beliau, ini karena perubahan cuaca yang eskrim. Maksutnya, memasuki musim eskrim, cuaca berubah eskrim, dan saya yang notabene makhluk tropis, masi butuh waktu untuk beradaptasi. Ooo...begono rupanya. Semakin menyadari kepandiran diri sendiri...*nangis nelungkup di meja, tangan kanan nutup muka, tangan kiri mukul2 meja*.
Lalu, pagi ini baru dapet jawaban dari 'makhluk' pinter anak Bu Teknologi yang bernama Internet. Bener kata temen saya, emang 'kelainan' itu disebabkan perubahan suhu yang ekstrim. Namanya Chillblain, ato di jepang di sebut dengan Shimoyake (shimo = frost, yake = to bake/grill; jadi shimoyake = manggang salju? biar gampang "salju panggang" aja deh :) ...ngawurrr...hehehe). Jadi Chilblain ato istilah kerennya Perniosis (iya gitu keren? berarti bronchitis dan -is -is yang lain keren juga dong ya?) adalah "painful abnormal reaction of the small blood vessels in the skin when exposed to cold temperatures. Chilblains usually occur several hours after exposure to the cold in temperate humid climates. The cold causes constriction of the small blood vessels in the skin and if rewarming of the skin happens too rapidly, there is leakage of blood into the tissues as the blood vessels do not respond quickly enough to this rewarming. Chilblains are not very common in countries where the cold is more extreme as the air is drier. The living conditions and clothing used in these climates are protective." (silahkan artikan sendiri, bahasa inggris saya pas2an...).
Nah, faktor yang menyebabkan si "salju panggang" itu muncul sebenernya belum begitu jelas, dia hanya muncul pada orang yang susceptible terhadapnya. Saya pernah baca, katanya perempuan memiliki kecenderungan lebih untuk terkena "salju panggang" ini, karena alasan hormonal. Dan di sumber lain ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang cenderung terserang oleh si "salju panggang" ini, antara lain genetis, sirkulasi udara yang buruk, anemia, kurang gizi (keknya ini faktor yang paling masuk akal kenapa saya terserang shimoyake), perubahan hormonal, beberapa kelainan jaringan ikat, dan beberapa kelainan sumsum tulang. Kondisi yang lembab juga mungkin meningkatkan resiko Chilblain ini, mengingat ada orang yang hidup di tempat dengan empat musim tapi kelembaban rendah, tak pernah terserang chilblain. Namun ketika dia berada di tempat dengan empat musim dengan kelembaban tinggi, dia terserang chilblain.
Katanya lagi, chilblain ini muncul kalo ada perubahan yang terlalu cepat dari dingin ke panas, jadi chilblain ini muncul setelah kaki dalam kondisi kedinginan. Terjawab sudah kenapa kaki saya rasanya cekit-cekit tak karuan, plus bengkak dan memerah, kalo di tempat-tempat hangat kaya ruang seminar, kelas, dan kamar. Ketika kaki saya dalam kondisi setengah beku setelah mengarungi tumpukan salju, di tempat yang hangat itu, pembuluh darah saya ga mampu merespon dengan cukup cepat terhadap perubahan temperatur. Pada beberapa orang, perubahan temperatur yang tak seberapa ekstrim sudah bisa menimbulkan chilblain.
Nah, bagaimana mencegah si chilblain ini? Ada beberapa tips :
1. Jaga kaki agar tetap hangat. Gunakan celana panjang, boots, dan kaos kaki yang hangat. (jadi kepikiran, kalo misalnya ditempelin koyo cabe gitu, termasuk menghangatkan ga ya?hehehe).
2. Kalo kaki kedinginan, jangan menghangatkan kaki secara ekstrim, biarkan kaki menghangat pelan-pelan. Jadi, kalo kaki kedinginan, jangan dimasukin ke air mendidih atau ditempelin ke heater (wew, ini mah bakal mateng, jadi yakiniku beneran...).
3. Jangan merokok (tuuh...nambah lagi kan ruginya merokok, stop smoking lah...) karena merokok dapat meningkatkan resiko chilblains.
Kalo udah kena chilblains, wot tu du???
1. Jangan digaruk atopun digosok (apalagi dipukul ;p).
2. Cegah dari paparan sumber panas langsung, misalnya heater, tapi hangatkan dengan mengenakan kaos kaki wool yang tebal dan hangat.
3. Gunakan losion buat gatal-gatal macam kalamin losion gitu.
4. Kalo kaki lecet, gunakan antiseptik untuk mencegah infeksi.
5. Keterangan lebih lanjut, hubungi dokter... :D.
* gambar diambil (tanpa ijin) dari http://en.wikipedia.org/wiki/Chilblains
* yang ngajarin tentang chilblain : http://www.epodiatry.com/chilblains.htm
Subscribe to:
Comments (Atom)


