Total Pageviews

Mar 21, 2010

Masih pantaskah kita mengeluh?

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Disimpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

(Sore Tugu Pancoran, by Iwan Fals)


Kisah 1
Seorang anak, usia belasan tahun, hitam, kurus, tak terurus. Tinggal di Afrika, piatu, dan sang ayah bekerja di kota dengan penghasilan yang tak seberapa. Tinggal bersama tiga saudaranya dan neneknya, harus bekerja setiap hari sebagai pendulang intan untuk menghidupi keluarga. Pendapatannya hanya kira-kira 100 Yen (= Rp10.000) per butir intan yang berhasil didapatkan, dan hanya cukup untuk makan sekali sehari. Jika dia tak dapat intan, berarti dia takkan dapat seratus yen itu. Dan tak setiap hari tentunya intan dapat ia temukan.

Sempat merasakan kemewahan dunia bernama sekolah. Tapi tak sampai berapa tahun SD ia kecap, kemiskinan melemparkannya pada kenyataan hidup, bahwa suara keroncongan di perutnya dan tiga saudaranya serta neneknya, jauh lebih penting dibandingkan haus jiwanya akan pendidikan. Benar, dia memang melepaskan dirinya dari rutinitas sekolah, tapi tak berarti dia melepaskan mimpi untuk bersekolah dari genggamannya. Tangan kurus, kasar, dan kapalan itu, sangat kuat menggenggam mimpi itu, sekuat genggamannya pada ayakan pendulang intan.

Ketika ditanya apa impian terbesarnya, katanya “Gakkou ni hairitai desu”. Saya ingin sekolah. Sangat. Dia anak yang cerdas, bisa lancar berbahasa Inggris. Dari mana dia bisa berbicara bahasa Inggris? Jawabnya sederhana kawan, tapi bagiku sangat luar biasa. Dari buku matematika yang diberikan kakak kelasnya kepadanya. Bayangkan, dia tidak belajar bahasa Inggris dari buku bahasa Inggris, tapi dari buku matematika. Katanya, buku itu adalah buku pelajaran dalam bahasa Inggris, dan setiap hari (sepulang bekerja tentunya) dia membaca buku itu, terus menerus, kemudian menyalinnya. Setiap hari, sampai dia faham dan hafal maksud dari kata-kata dalam buku teks tersebut. Wonderful, Masya Allah.....
(Seperti diceritakan Sensei Bahasa Jepang saya, berdasarkan program yang beliau tonton di salah satu stasiun televisi di Jepang)

Kisah 2
Kisah ini pasti sudah pernah kau dengar kawan. Kisah mengharukan tentang seorang bocah 6 tahun yang mengurus ibunya yang lumpuh sendirian selama lebih dari 2 tahun. Ya, ini kisah tentang Sinar. Bocah 6 tahun kelas 1 SD, yang menyindir kekerdilan mental kita menghadapi kerasnya kehidupan. Betapa, anak sekecil itu sudah sedemikian mengerti arti berbakti, tanggung jawab, dan hidup.

Seorang diri mengurus sang ibu yang lumpuh, selama 2 tahun, mulai dari memasak, memandikan, menyuapi, mencucikan pakaian, semuanya dilakukan sendiri. Sering harus terlambat ke sekolah karena harus mengurus sang ibu. Tapi satu hal kawan, apakah kau lihat binar kesusahan di mata anak itu? Apakah kau lihat gurat kelelahan, keluhan, atau gugatan kepada Tuhan atas garis hidup yang harus dia tempuh? Entahlah, tapi aku tak melihatnya kawan. Yang kulihat hanya sinar mata polos bocah 6 tahun, dan pancaran kasih sayang seorang anak kepada sang bunda. Hanya itu yang kulihat.

Kisah 3
Seorang bocah, ya....lagi-lagi seorang bocah. Aku lupa persis umurnya, tapi sekitar SD kelas 5. Menempuh jarak 5 kilometer berjalan kaki (kalau aku tidak salah ingat, maklum, cerita ini sudah sangat lama diceritakan padaku) bolak-balik sambil memanggul keranjang berisi batu kali untuk dijadikan bahan bangunan. Puluhan kilo itu dipanggul tubuh kurus dan hitam, dengan imbalan 50 perak untuk setiap batunya. Kawan, dia melakukannya untuk satu alasan. Sekolah. Kata-kata mewah yang semakin hari semakin mewah. Aku tak bias membayangkan berapa rupiah yang sanggup dipanggul tubuh kecil itu setiap harinya? Betap kerasnya ia pada impiannya. Betapa mewahnya kata-kata yang sering menjadi mimpi buruk bagi sebagian anak-anak seusianya. (Seperti diceritakan kakak kelas SMA, beberapa tahun yang lalu).

Kisah 4
Kisah ini nyata atau fiktif, Allahu’alam. Hanya penceritanya saja yang bias menjawab. Tapi lepas dari nyata atau fiktif, ini adalah kisah yang sebenarnya banyak kita jumpai di sekitar kita. Bocah itu bersepatu bekas ban, dengan bau karet panas yang menusuk. Rambut ikalnya memerah, berpadu dengan tubuh kurus ceking dan kulit legam. Tapi sumber magnet dari anak laki-laki itu bukan pada sepatu karetnya, atau rambut merahnya, pun kulit legam dan tubuh cekingnya. Magnet itu ada di matanya. Mata yang tak pernah diam, tak pernah mati, tak pernah kosong. Menandakan pikiran sang pemilik mata jenius itu yang tak pernah sepi dari dentingan pertanyaan, susunan mozaik jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam semesta, dan rasa haus tak hingga akan ilmu pengetahuan.

Delapan puluh kilometer setiap hari ditempuh dengan bersepeda, berpapasan dengan buaya dan mara bahaya. Tanpa seharipun absen. Dan semuanya untuk satu alasan itu kawan, sekolah. Tapi cintanya yang begitu besar itu harus rela ia lepaskan dari genggaman, memasrahkannya kepada nasib ketika sang Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga harus meninggalkannya dan keluarganya untuk selama-lamanya. Ialah yang akhirnya menjadi tumpuan hidup keluarganya. Bukan tak ikhlas ia lepaskan sekolahnya, tapi seandainya ia bias memilih, tentu pilihan tersulit adalah melepaskan impiannya itu. Namanya Lintang, kawan. Pernahkah kau dengar nama itu?
(Dari buku Sang Pemimpi, Andrea Hirata).

Kisah 5
Kali ini kisah tentang seorang gadis. Muslimah. Bekerja menjadi pemulung sejak kecil hingga SMA, dijalani bukan tanpa beban tentunya. Tapi ketabahan dan penerimaannya akan kenyataan hidup yang harus dijalani, dengan kondisi ekonomi keluarga yang jauh di bawah ‘menengah’, beberapa orang adik yang masih harus sekolah dan makan, membuatnya mejnadi istimewa di mata saya. Ayahnya bekerja tentu saja, serabutan dengan penghasilan yang tak seberapa. Ibunya, dia, dan adik-adiknya menjadi pemulung untuk menyambung hidup dan mempertahankan status sebagai ‘siswa’.

Saya bayangkan, di Jakarta, dengan kehidupan yang sama sekali jauh dari ramah, seorang gadis SMA memulung sampah setiap pulang sekolah. As a girl, I can’t imagine how her feeling was. Adakah ejekan dari teman-temannya? Hm, itu bukan alasan yang cukup untuk membuatnya berhenti berangkat sekolah. Tentu saja. Karena dia memulung untuk sekolah. Keinginan besar itu, tak akan bias dengan mudahnya diruntuhkan oleh sekedar ejekan anak-anak-kota-sok-gaya yang sudah kehilangan empatinya. Dan, kehausannya mereguk segarnya mata air pengetahuan tak cukup hanya sampai SMA. Diapun kuliah kawan. Tetap memulung, dan menjadi penjaga kantin di universitasnya. Setiap minggu pulang ke rumahnya, tetap sambil memulung di sepanjang jalannya. Dia tidak naik angkot kawan, meski jarak rumah dan kampusnya cukup jauh, terlalu jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. But she does, she walks every time she goes home. Subhanallah....(Dari salah satu artikel, tapi saya lupa sumbernya....)

Kisah-kisah diatas adalah ejekan kawan. Ejekan atas rasa malas yang sering kita perturutkan. Ejekan atas waktu yang sering kita hambur-hamburkan. Ejekan atas kerdilnya kita memandang kehidupan. Ejekan atas banyaknya hal yang kita keluhkan. Ejekan atas kesempatan yang sering kita sia-siakan. Tak jarang kita mengeluh dengan banyaknya tugas yang dosen berikan. Sering kita sengaja skip kelas, bolos, hanya sekedar menurutkan rasa malas. Berapa kali kita mengeluh dengan kehidupan kita yang sangat berkecukupan ini (jika dibandingkan dengan mereka)?

Saya ingat, Sensei bahasa jepang saya pernah berkata, “minna wa okanemochi desuyo” (kalian adalah orang-orang kaya lo). Coba lihat anak-anak di Afrika, mereka harus berpikir apa yang bisa saya makan hari ini, berpakaian seadanya, tak bersekolah. Sayapun jadi berpikir, anak-anak Palestina yang belajar di reruntuhan sekolah mereka dengan backsound dentuman bom dan rentetan peluru. Dengan resiko tertembus peluru atau menjadi ‘mainan’ serdadu-serdadu yang tak berhati itu sepulang sekolahnya. Tanpa makan dan minum yang cukup.

Lalu saya lihat diri saya sendiri, betapa saya telah kufur nikmat. Betapa saya telah lalai dari tanggung jawab. Betapa saya picik dengan hidup saya. Berapa kali dalam sehari saya mengeluh? Mengatakan sudah muak dengan kelas-kelas yang harus saya hadiri, dengan tugas-tugas yang harus saya kerjakan, dengan tes-tes setiap hari. Berapa kali saya berkata bosan? Dengan rutinitas yang menjemukan. Berapa jam dalam sehari yang saya pergunakan untuk kemanfaatan? Padahal dengan fasilitas yang sangat mencukupi. Dan kemudian pertanyaan itu muncul di pikiran saya. Pantaskan saya mendapatkan segala kenikmatan ini?

Kisah itu memang hanya lima. Tapi percayalah, puluhan, ratusan, ribuan kisah seperti itu nyata, kawan. Ada di sekitar kita. Benar-benar nyata. Kutulis kisah ini, sebagai pengingat kawan, untuk diriku sendiri terutama. Selelah-lelahnya kita, masih ada mereka yang jauh lebih kepayahan. Sebosan-bosannya kita, ada mereka yang bergelut dengan kerasnya kehidupan, tapi tak pernah merasakan bosan. Impian mereka sederhana kawan. Mungkin tak senjlimet rentetan perencanaan kita tentang masa depan. Tapi, harus kita akui, kita masih jauh, jauh kalah hebat dari mereka kawan. Dan mereka menunggu kita. Menunggu kita berbuat, menunggu kita bergerak. Jadi, masih pantaskan kita mengeluh?

No comments:

Post a Comment