Total Pageviews

Mar 7, 2010

Catatan Musim Dingin Season 2 : Tentang Shimoyake


Pertama-tama, sudilah kiranya untuk mengizinkan saya untuk supaya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, beribu-ribu, berjuta-juta, kepada musim dingin ini (maaf, kumat....).


Alhamdulillah, jadi dapet ilmu baru dari musim dingin ini. Bener kata wong-wong londo "no pain no gain". Kalo kata simbah mbiyen "Jer basuki mowo panas...eh salah...Jer basuki mowo beo". Dari awal musim dingin, sampai beberapa hari kemarin, saya menderita "pain" dan harus "mowo beo", tapi akhirnya malah dapet ilmu baru.


Sejak memasuki musim dingin, kaki saya, dan tangan kadang-kadang, membengkak, memerah, dan sering tiba-tiba teramat sangat gatal, terutama kalo berada di dalam ruangan dengan heater menyala di posisi high. Saya ga ngerti kenapa. Awalnya saya pikir karena sepatu saya terlalu tight, sesek, jadi kakinya protes (betapa kerdilnya pemikiran saya ya...huehehehe...ga ada ilmiah-ilmiahnya...). Saya coba ganti pake sepatu satunya lagi yang agak-agak longgar. Ga ada perubahan. Lalu saya coba tiap malam saya rendam kaki saya di air kembang tujuh rupa, tetep ga ada perubahan (yang ini jelas bohong :p). Tak kehabisan akal, saya rendam kaki di air hangat. Agak mendingan, tapi pas keluar dari air, rasanya makin cekit-cekit, trus besoknya kembali membengkak, memerah, dan menggatal seperti semula. Paling menderita kalo cekit-cekitnya menggila di tempat yang tidak semestinya, misalnya di tengah-tengah kelas atau seminar. Rasanya cekit-cekitnya sampe ke otak (susah kan, gimana coba cara nggaruk otak?). Lha mustahal bin mustahil juga kan saya buka sepatu trus garuk-garuk, kesannya kok kutu air dipamer-pamerin...hehehe...


Saya coba tanya teman saya di kampung halaman, mungkin saya bisa dapat jawaban yang ilmiah. Tentunya teman saya jauuuuh lebih logis, ilmiah, dan cerdas dari saya.... Kata beliau, ini karena perubahan cuaca yang eskrim. Maksutnya, memasuki musim eskrim, cuaca berubah eskrim, dan saya yang notabene makhluk tropis, masi butuh waktu untuk beradaptasi. Ooo...begono rupanya. Semakin menyadari kepandiran diri sendiri...*nangis nelungkup di meja, tangan kanan nutup muka, tangan kiri mukul2 meja*.


Lalu, pagi ini baru dapet jawaban dari 'makhluk' pinter anak Bu Teknologi yang bernama Internet. Bener kata temen saya, emang 'kelainan' itu disebabkan perubahan suhu yang ekstrim. Namanya Chillblain, ato di jepang di sebut dengan Shimoyake (shimo = frost, yake = to bake/grill; jadi shimoyake = manggang salju? biar gampang "salju panggang" aja deh :) ...ngawurrr...hehehe). Jadi Chilblain ato istilah kerennya Perniosis (iya gitu keren? berarti bronchitis dan -is -is yang lain keren juga dong ya?) adalah "painful abnormal reaction of the small blood vessels in the skin when exposed to cold temperatures. Chilblains usually occur several hours after exposure to the cold in temperate humid climates. The cold causes constriction of the small blood vessels in the skin and if rewarming of the skin happens too rapidly, there is leakage of blood into the tissues as the blood vessels do not respond quickly enough to this rewarming. Chilblains are not very common in countries where the cold is more extreme as the air is drier. The living conditions and clothing used in these climates are protective." (silahkan artikan sendiri, bahasa inggris saya pas2an...).


Nah, faktor yang menyebabkan si "salju panggang" itu muncul sebenernya belum begitu jelas, dia hanya muncul pada orang yang susceptible terhadapnya. Saya pernah baca, katanya perempuan memiliki kecenderungan lebih untuk terkena "salju panggang" ini, karena alasan hormonal. Dan di sumber lain ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang cenderung terserang oleh si "salju panggang" ini, antara lain genetis, sirkulasi udara yang buruk, anemia, kurang gizi (keknya ini faktor yang paling masuk akal kenapa saya terserang shimoyake), perubahan hormonal, beberapa kelainan jaringan ikat, dan beberapa kelainan sumsum tulang. Kondisi yang lembab juga mungkin meningkatkan resiko Chilblain ini, mengingat ada orang yang hidup di tempat dengan empat musim tapi kelembaban rendah, tak pernah terserang chilblain. Namun ketika dia berada di tempat dengan empat musim dengan kelembaban tinggi, dia terserang chilblain.


Katanya lagi, chilblain ini muncul kalo ada perubahan yang terlalu cepat dari dingin ke panas, jadi chilblain ini muncul setelah kaki dalam kondisi kedinginan. Terjawab sudah kenapa kaki saya rasanya cekit-cekit tak karuan, plus bengkak dan memerah, kalo di tempat-tempat hangat kaya ruang seminar, kelas, dan kamar. Ketika kaki saya dalam kondisi setengah beku setelah mengarungi tumpukan salju, di tempat yang hangat itu, pembuluh darah saya ga mampu merespon dengan cukup cepat terhadap perubahan temperatur. Pada beberapa orang, perubahan temperatur yang tak seberapa ekstrim sudah bisa menimbulkan chilblain.


Nah, bagaimana mencegah si chilblain ini? Ada beberapa tips :

1. Jaga kaki agar tetap hangat. Gunakan celana panjang, boots, dan kaos kaki yang hangat. (jadi kepikiran, kalo misalnya ditempelin koyo cabe gitu, termasuk menghangatkan ga ya?hehehe).

2. Kalo kaki kedinginan, jangan menghangatkan kaki secara ekstrim, biarkan kaki menghangat pelan-pelan. Jadi, kalo kaki kedinginan, jangan dimasukin ke air mendidih atau ditempelin ke heater (wew, ini mah bakal mateng, jadi yakiniku beneran...).

3. Jangan merokok (tuuh...nambah lagi kan ruginya merokok, stop smoking lah...) karena merokok dapat meningkatkan resiko chilblains.


Kalo udah kena chilblains, wot tu du???

1. Jangan digaruk atopun digosok (apalagi dipukul ;p).

2. Cegah dari paparan sumber panas langsung, misalnya heater, tapi hangatkan dengan mengenakan kaos kaki wool yang tebal dan hangat.

3. Gunakan losion buat gatal-gatal macam kalamin losion gitu.

4. Kalo kaki lecet, gunakan antiseptik untuk mencegah infeksi.

5. Keterangan lebih lanjut, hubungi dokter... :D.


* gambar diambil (tanpa ijin) dari http://en.wikipedia.org/wiki/Chilblains

* yang ngajarin tentang chilblain : http://www.epodiatry.com/chilblains.htm

No comments:

Post a Comment