Musim dingin pertama di negerinya Doraemon, ada banyak hal yang menarik, dan tak sedikit juga yang menorak...hehehe...maklum, namanya juga orang udik, ndeso, katrok, dari negeri tropis, pertama kali merasakan musim es serut. Untungnya sendeso-ndesonya saya, ga sampe bawa gelas isi cendol keluar rumah pas salju pertama turun, ato guling-guling kayak orang ga waras di atas tumpukan salju (meski saya harus akui godaan untuk melakukannya amat sangat kuat, tapi demi menjaga martabat bangsa, negara, dan keluarga, ditahaaaannnn....huehehehee).
Indah banget pas pertama liat salju turun pelan-pelan dari langit. Melayang-layang pelan bak balerina menarikan danau angsa (hayah, berlebihan,,,,ini gara-gara dulu kebanyakan baca komik Marichan). Apalagi kalo menikmatinya sambil dengerin Canon in D major...wuah....serasa waktu benar-benar berhenti. Dalam khayalan, salju-salju itu benar-benar seperti menjelma menjadi para balerina yang dengan anggunnya menari sambil melayang-layang di udara. Jenius memang si Oom Johann Pachelbel...suki da...
Indah banget pas pertama liat salju turun pelan-pelan dari langit. Melayang-layang pelan bak balerina menarikan danau angsa (hayah, berlebihan,,,,ini gara-gara dulu kebanyakan baca komik Marichan). Apalagi kalo menikmatinya sambil dengerin Canon in D major...wuah....serasa waktu benar-benar berhenti. Dalam khayalan, salju-salju itu benar-benar seperti menjelma menjadi para balerina yang dengan anggunnya menari sambil melayang-layang di udara. Jenius memang si Oom Johann Pachelbel...suki da...
Keindahan kedua, melihat semuanya berselimut putih. Semuanya. Atap rumah, atap mobil, atap bus, jalanan, pepohonan, gunung. Semuanya putih. Apalagi kampus saya yang memang nggunung, pemandangannya Subhanallah....luar biasa indah. Gimana cara menggambarkannya lewat kata-kata ya? mungkin cuman ini kata-kata yang cocok : Subhanallah, MasyaAllah, Allahuakbar,,,,,Alhamdulillah...
Hal menyenangkan lainnya, saya bisa bikin boneka salju. Mungil sih, maklum bikinnya pun dari salju di balkon kamar, di akhir pekan, sendirian, menggeje... Tutor pernah ngajakin buat bikin boneka salju "beneran", tapi tampaknya karena kesibukan (maksutnya si Tutor yang sibuk, kalo saya mah sok sibuk, sibuk tidooorr.... :D), belum sempat terealisasi di musim dingin pertama saya ini. Meski bentuknya kayak snowman abis kelindes truk, trus keinjek godzilla, lumayan kiyut dan imut .
Dan tak sampai 24 jam utuh saya begitu mengagumi salju, saya sudah komplain. Memang dasar manusia, ga pernah bisa bersyukur lama-lama. Dan sepertinya komplain terhadap si balerina ini lebih banyak dari kekaguman saya terhadapnya.
Pertama, saya harus berjalan ekstra super duper hati-hati. Salah jalan sedikit saja, bisa bikin kepleset dan jungkir balik. Itu kalo jalan di salju yang keras. Apesnya lagi kalo jalan di salju yang tebal menipu. Bisa-bisa kejeglong (istilah bahasa indonesianya apa ya? Terperosok? Entahlah, nilai pelajaran bahasa indonesia saya ga pernah lebih dari 7...) dan masuklah si es serut itu ke sepatu. Dingiiiin.
Kedua, mungkin bukan hanya salah si es serut, tapi mungkin memang di tempat tinggal saya sekarang ini anginnya hobi sprint. Kuenceng bak Shinkansen. Kadang pas jalan, rasanya kayak mau terbang. Alamat muka sakit ditampar-tampar ama duet maut Salju sang Balerina dan Angin si Sprinter. Pernah satu malam, sepulang dari kampus, saya harus berjalan dari stasiun sampai ke kos-kosan. Kira-kira 10-15 menitan. Salju lagi banyak-banyaknya, dan angin sedang kencang-kencangnya. Mustahil pake payung. Percuma. Karena akan berakhir dengan patahnya si payung, karena ga kuat menahan kencangnya angin, ato saya akan muncul di berita esok pagi gara-gara diterbangkan angin. Yo wes, jalanlah dengan nekat, sambil bawa belanjaan berat, malam-malam, kelaparan, kelelahan jiwa raga, tanpa payung, menembus serunya duet maut salju dan angin (weh,,,kok melas men yo...). Sampai rumah Alhamdulillah dengan selamat. Tapi bentukku udah mencong-mencong ga jelas....duhai...
Ketiga, di musim dingin, orang-orang cenderung tidak menggunakan mobil sebagai sarana transportasi. Masuk akal, karena salju yang menutup jalan akan membuat jalanan sangat licin. Memang ada air hangat yang selalu disemprotkan ke jalan untuk mencairkan salju, tapi itu tak cukup membantu, dan tampaknya justru membuat jalanan semakin licin. Alhasil, 'saingan' saya untuk naik bus jadi bertambah berlipat-lipat. Berangkat lebih pagi ato harus bersabar mengantri bus, dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya (yang sialnya rata-rata jarang mandi pagi....maklum, dingin...). Dan bus akan berjalan sangat pelan bak keong kelaparan di tengah padang sahara. Yang biasanya 30 menit sampe kampus, bisa jadi hampir sejam baru nyampe. Abunai memang jalanan yang basah, licin, rawan terjadi kecelakaan.
Keempat, saya jadi jarang liat Sunny (yang suka dipanggil-panggil ama mba BCL tea...). Matahari jadi sangat pemalu di musim ini. Padahal saya sangat cinta sama si Taiyou ini, secara orang tropis, ekstrimnya no sun no life lah....Semuanya tampak seperti film jaman kemerdekaan dulu. Hitam, putih, dan abu-abu. Tapi itu justru membuat saya semakin menikmati matahari pertama di akhir musim dingin. Alhamdulillah, nikmatNya yang manakah yang akan saya dustakan?
Dan kelima, saya terserang penyakit Shimoyake di sepanjang musim dingin di sini. Hm, makan apa pula shimoyake itu??? Monggo silahkan diihat di sini.
Dan tak sampai 24 jam utuh saya begitu mengagumi salju, saya sudah komplain. Memang dasar manusia, ga pernah bisa bersyukur lama-lama. Dan sepertinya komplain terhadap si balerina ini lebih banyak dari kekaguman saya terhadapnya.
Pertama, saya harus berjalan ekstra super duper hati-hati. Salah jalan sedikit saja, bisa bikin kepleset dan jungkir balik. Itu kalo jalan di salju yang keras. Apesnya lagi kalo jalan di salju yang tebal menipu. Bisa-bisa kejeglong (istilah bahasa indonesianya apa ya? Terperosok? Entahlah, nilai pelajaran bahasa indonesia saya ga pernah lebih dari 7...) dan masuklah si es serut itu ke sepatu. Dingiiiin.
Kedua, mungkin bukan hanya salah si es serut, tapi mungkin memang di tempat tinggal saya sekarang ini anginnya hobi sprint. Kuenceng bak Shinkansen. Kadang pas jalan, rasanya kayak mau terbang. Alamat muka sakit ditampar-tampar ama duet maut Salju sang Balerina dan Angin si Sprinter. Pernah satu malam, sepulang dari kampus, saya harus berjalan dari stasiun sampai ke kos-kosan. Kira-kira 10-15 menitan. Salju lagi banyak-banyaknya, dan angin sedang kencang-kencangnya. Mustahil pake payung. Percuma. Karena akan berakhir dengan patahnya si payung, karena ga kuat menahan kencangnya angin, ato saya akan muncul di berita esok pagi gara-gara diterbangkan angin. Yo wes, jalanlah dengan nekat, sambil bawa belanjaan berat, malam-malam, kelaparan, kelelahan jiwa raga, tanpa payung, menembus serunya duet maut salju dan angin (weh,,,kok melas men yo...). Sampai rumah Alhamdulillah dengan selamat. Tapi bentukku udah mencong-mencong ga jelas....duhai...
Ketiga, di musim dingin, orang-orang cenderung tidak menggunakan mobil sebagai sarana transportasi. Masuk akal, karena salju yang menutup jalan akan membuat jalanan sangat licin. Memang ada air hangat yang selalu disemprotkan ke jalan untuk mencairkan salju, tapi itu tak cukup membantu, dan tampaknya justru membuat jalanan semakin licin. Alhasil, 'saingan' saya untuk naik bus jadi bertambah berlipat-lipat. Berangkat lebih pagi ato harus bersabar mengantri bus, dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya (yang sialnya rata-rata jarang mandi pagi....maklum, dingin...). Dan bus akan berjalan sangat pelan bak keong kelaparan di tengah padang sahara. Yang biasanya 30 menit sampe kampus, bisa jadi hampir sejam baru nyampe. Abunai memang jalanan yang basah, licin, rawan terjadi kecelakaan.
Keempat, saya jadi jarang liat Sunny (yang suka dipanggil-panggil ama mba BCL tea...). Matahari jadi sangat pemalu di musim ini. Padahal saya sangat cinta sama si Taiyou ini, secara orang tropis, ekstrimnya no sun no life lah....Semuanya tampak seperti film jaman kemerdekaan dulu. Hitam, putih, dan abu-abu. Tapi itu justru membuat saya semakin menikmati matahari pertama di akhir musim dingin. Alhamdulillah, nikmatNya yang manakah yang akan saya dustakan?
Dan kelima, saya terserang penyakit Shimoyake di sepanjang musim dingin di sini. Hm, makan apa pula shimoyake itu??? Monggo silahkan diihat di sini.
No comments:
Post a Comment