Awan, enakkah melayang di angkasa sana? Pasti enak, bisa berkeliling dunia. Gratis lagi... Pasti indah menatap dunia dari angkasa, tanpa merasa acro-phobia lagi...
Aku iri padamu awan. Bukan karena kau bisa keliling dunia, bukan karena kau bisa melayang di angkasa. Aku iri padamu karena dirimu bisa pergi kemana saja, termasuk ke tempat cintaku kini berada. Sementara aku di sini, cukup puas hanya mendengar suaranya seminggu sekali, memandang fotonya setiap hari, membayangkan wajahnya setiap saat. Tapi aku tak bisa berjumpa dengannya, memeluknya, menikmati kasih sayang di matanya, mendengarkan cerita-ceritanya....aku sungguh iri padamu...
Tahukah kamu awan, cintaku itu sosok istimewa. Dialah yang mengajariku tentang cinta, sejak pertama kali aku melihat dunia, bahkan jauh sebelumnya. 9 bulan aku berada dalam kehangatan tubuhnya, selama itu aku menjadi bebannya. Kemana-mana aku selalu dibawanya. Aku yang menyebabkan dia mual di tiap paginya, aku yang menyebabkan dia kehilangan selera makannya, aku yang menyebabkan bengkak-bengkak di kakinya, aku yang menyebabkan dia tak bisa nyenyak di tidur malamnya. Tapi tahukah engkau, selama 9 bulan itu dia selalu mengelus2 perutnya, tempatku berada, sambil tak henti-hentinya matanya memancarkan rasa bahagia. Selama itu dia tak henti-hentinya melantunkan do'a, dan pengharapan besar untukku. Selama itu tak henti-hentinya dia mengucapkan kata cinta untukku. Hebat bukan cintaku itu?
Demi memperlihatkan dunia kepadaku, dia rela mempertaruhkan nyawanya. Prosesku keluar dari perutnya bisa dibilang proses yang tak biasa, setelah diinduksipun, aku tak kunjung mau keluar. Kurasa mungkin karena di dalam perutnya adalah tempat teraman dan ternyaman untukku. Tempat aku bisa menikmati terus cintanya, memonopolinya, hanya untukku. Dan gara-gara kebandelanku, akhirnya, aku harus dikeluarkan dengan sebuah alat bernama forcep. Aku tak bisa membayangkan rasa sakit yang harus diderita cintaku. Tak bisa....Maafkan aku cinta, harus membuatmu menderita...
Ketika lahirpun, aku harus membuatnya khawatir, dengan vonis kemungkinan adanya masalah dengan syarafku, dan membuatku harus kontrol ke dokter syaraf setiap bulannya, dengan obat seharga ratusan ribu setiap bulannya (di tahun 80-an, ratusan ribu mungkin setara dengan jutaan saat ini), atau aku akan menderita keterbelakangan mental. Padahal dengan kondisi yang sangat terbatas, itu sangat berat pastinya. Tapi cintaku tak menyerah, apapun diusahakannya demi aku. Meski masa terapi yang seharusnya berjalan 2 tahun hanya sanggup dilalui 3 bulan, tapi itu sudah usaha luar biasa dari cintaku, demi yang terbaik buatku. Dan Yang Maha Cinta, mendengarkan lantunan cinta dari cintaku untukku, yang tak pernah lelah mengalun dari bibirnya di setiap sepertiga malamnya. Meski dokter menyatakan kemungkinanku mengalami keterbelakangan mental, cintanya telah membuatku sehat, fisik dan mental, walau tanpa obat seharga ratusan ribu itu. Cintanyalah obatku, cintanyalah yang menyehatkanku, cintanyalah yang selalu mengalir di nadiku. Cintanyalah yang membuat semua yang tak masuk akal menjadi begitu sederhana dan mudahnya dipahami. Cinta dari cintaku memang ajaib ya? Satu-satunya keajaiban di muka bumi ini, memang hanya cintaku...
Dulu, saat aku masih kecil, cintaku sering menyanyikan lagu untukku. Dulu aku tak mengerti apa artinya, tapi kini aku mengerti, bahwa lagu itu tak sekedar lagu, tapi do'a yang luar biasa untukku,,, "Anakku cah ayu yo nduk, isih cilik tak kudang-kudang. Dadio wong kang utomo, tumrape nuso lan bongso" Hampir di setiap malam, lantunan lagu itu selalu mengantarku menjemput mimpi. Dan aku yakin pasti, lagu itu pula yang mengantarku menjemput mimpi-mimpiku kini....
Lalu, setiap aku sakit, cintaku selalu bertanya padaku dengan lagu juga, "Anakku cah ayu, opomu sing lara nduk?" Dan segera aku menjawab, "Guluku Buk," sesuai dengan benda yang kuinginkan untuk dibelikan. Cintaku akan berkata, "Yo wes, mengko tak tukokne kalung," jawaban yang sesuai dengan apa yang aku ucapkan.
Tahukah kamu awan, dulu aku selalu menganggap serius apa yang dikatakan cintaku. Aku berpikir bahwa pasti nanti aku akan dibelikan kalung setelah sembuh. Karenanya segera aku makan banyak, minum obat, dan istirahat. Agar segera sembuh. Lalu, akan segera mendapatkan yang aku inginkan. Setiap aku sakit, dialog itu selalu terulang, dengan jawaban berbeda-beda sesuai dengan benda apa yang aku inginkan saat itu. Dan selalu dengan cepatnya aku sembuh. Meski akhirnya aku tahu bahwa itu tak serius, bahwa cintaku tak punya cukup uang untuk memenuhi harapanku, entah kenapa tapi aku tak pernah kecewa, bahkan meski hal itu terjadi berulang-ulang. Dan cintaku selalu menanyakan pertanyaan yang sama, dan aku selalu antusias menjawabnya, meski akhirnya itu hanya berakhir sebagai lagu. Tapi sekali lagi terbukti, cinta dari cintakulah yang menyembuhkanku. Memang ajaib...
Saat aku 3 tahun, aku juga membuatnya sekali lagi khawatir, gara-gara penyakit paru-paru, dan sering "dengan seenaknya" pingsan. Berobat jalan lagi, merepotkannya lagi, membuatnya sedih lagi, membuatnya khawatir lagi....
Aku iri padamu awan. Bukan karena kau bisa keliling dunia, bukan karena kau bisa melayang di angkasa. Aku iri padamu karena dirimu bisa pergi kemana saja, termasuk ke tempat cintaku kini berada. Sementara aku di sini, cukup puas hanya mendengar suaranya seminggu sekali, memandang fotonya setiap hari, membayangkan wajahnya setiap saat. Tapi aku tak bisa berjumpa dengannya, memeluknya, menikmati kasih sayang di matanya, mendengarkan cerita-ceritanya....aku sungguh iri padamu...
Tahukah kamu awan, cintaku itu sosok istimewa. Dialah yang mengajariku tentang cinta, sejak pertama kali aku melihat dunia, bahkan jauh sebelumnya. 9 bulan aku berada dalam kehangatan tubuhnya, selama itu aku menjadi bebannya. Kemana-mana aku selalu dibawanya. Aku yang menyebabkan dia mual di tiap paginya, aku yang menyebabkan dia kehilangan selera makannya, aku yang menyebabkan bengkak-bengkak di kakinya, aku yang menyebabkan dia tak bisa nyenyak di tidur malamnya. Tapi tahukah engkau, selama 9 bulan itu dia selalu mengelus2 perutnya, tempatku berada, sambil tak henti-hentinya matanya memancarkan rasa bahagia. Selama itu dia tak henti-hentinya melantunkan do'a, dan pengharapan besar untukku. Selama itu tak henti-hentinya dia mengucapkan kata cinta untukku. Hebat bukan cintaku itu?
Demi memperlihatkan dunia kepadaku, dia rela mempertaruhkan nyawanya. Prosesku keluar dari perutnya bisa dibilang proses yang tak biasa, setelah diinduksipun, aku tak kunjung mau keluar. Kurasa mungkin karena di dalam perutnya adalah tempat teraman dan ternyaman untukku. Tempat aku bisa menikmati terus cintanya, memonopolinya, hanya untukku. Dan gara-gara kebandelanku, akhirnya, aku harus dikeluarkan dengan sebuah alat bernama forcep. Aku tak bisa membayangkan rasa sakit yang harus diderita cintaku. Tak bisa....Maafkan aku cinta, harus membuatmu menderita...
Ketika lahirpun, aku harus membuatnya khawatir, dengan vonis kemungkinan adanya masalah dengan syarafku, dan membuatku harus kontrol ke dokter syaraf setiap bulannya, dengan obat seharga ratusan ribu setiap bulannya (di tahun 80-an, ratusan ribu mungkin setara dengan jutaan saat ini), atau aku akan menderita keterbelakangan mental. Padahal dengan kondisi yang sangat terbatas, itu sangat berat pastinya. Tapi cintaku tak menyerah, apapun diusahakannya demi aku. Meski masa terapi yang seharusnya berjalan 2 tahun hanya sanggup dilalui 3 bulan, tapi itu sudah usaha luar biasa dari cintaku, demi yang terbaik buatku. Dan Yang Maha Cinta, mendengarkan lantunan cinta dari cintaku untukku, yang tak pernah lelah mengalun dari bibirnya di setiap sepertiga malamnya. Meski dokter menyatakan kemungkinanku mengalami keterbelakangan mental, cintanya telah membuatku sehat, fisik dan mental, walau tanpa obat seharga ratusan ribu itu. Cintanyalah obatku, cintanyalah yang menyehatkanku, cintanyalah yang selalu mengalir di nadiku. Cintanyalah yang membuat semua yang tak masuk akal menjadi begitu sederhana dan mudahnya dipahami. Cinta dari cintaku memang ajaib ya? Satu-satunya keajaiban di muka bumi ini, memang hanya cintaku...
Dulu, saat aku masih kecil, cintaku sering menyanyikan lagu untukku. Dulu aku tak mengerti apa artinya, tapi kini aku mengerti, bahwa lagu itu tak sekedar lagu, tapi do'a yang luar biasa untukku,,, "Anakku cah ayu yo nduk, isih cilik tak kudang-kudang. Dadio wong kang utomo, tumrape nuso lan bongso" Hampir di setiap malam, lantunan lagu itu selalu mengantarku menjemput mimpi. Dan aku yakin pasti, lagu itu pula yang mengantarku menjemput mimpi-mimpiku kini....
Lalu, setiap aku sakit, cintaku selalu bertanya padaku dengan lagu juga, "Anakku cah ayu, opomu sing lara nduk?" Dan segera aku menjawab, "Guluku Buk," sesuai dengan benda yang kuinginkan untuk dibelikan. Cintaku akan berkata, "Yo wes, mengko tak tukokne kalung," jawaban yang sesuai dengan apa yang aku ucapkan.
Tahukah kamu awan, dulu aku selalu menganggap serius apa yang dikatakan cintaku. Aku berpikir bahwa pasti nanti aku akan dibelikan kalung setelah sembuh. Karenanya segera aku makan banyak, minum obat, dan istirahat. Agar segera sembuh. Lalu, akan segera mendapatkan yang aku inginkan. Setiap aku sakit, dialog itu selalu terulang, dengan jawaban berbeda-beda sesuai dengan benda apa yang aku inginkan saat itu. Dan selalu dengan cepatnya aku sembuh. Meski akhirnya aku tahu bahwa itu tak serius, bahwa cintaku tak punya cukup uang untuk memenuhi harapanku, entah kenapa tapi aku tak pernah kecewa, bahkan meski hal itu terjadi berulang-ulang. Dan cintaku selalu menanyakan pertanyaan yang sama, dan aku selalu antusias menjawabnya, meski akhirnya itu hanya berakhir sebagai lagu. Tapi sekali lagi terbukti, cinta dari cintakulah yang menyembuhkanku. Memang ajaib...
Saat aku 3 tahun, aku juga membuatnya sekali lagi khawatir, gara-gara penyakit paru-paru, dan sering "dengan seenaknya" pingsan. Berobat jalan lagi, merepotkannya lagi, membuatnya sedih lagi, membuatnya khawatir lagi....
Masih banyak cerita yang ingin kuceritakan padamu awan, tentang cintaku. Karena kini aku merindukannya sangat. Tapi pasti kau harus segera pergi, menunaikan tugasmu di muka bumi ini....Berjanjilah, untuk menyampaikan cinta dan rinduku yang sangat ini padanya, dan berjanjilah, untuk mendengarkan ceritaku lagi, lain kali, tentang dia, cintaku,,,,
Ja, mata ne,,,
No comments:
Post a Comment