Total Pageviews

Nov 23, 2009

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs
Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

Dari puisi Taufiq Ismail, 1998

Nov 22, 2009

Lonely

To be lonely is not a new thing for me. I'm a solitaire rather than communal. If someone ask me do you like to make friend? Do you like to hang out with your friend? Definitely yes, I do. But I can't. I am not good at making friend stuffs. When I get along with my friends, I just feel uneasy. I feel worry to make them disappointed. Weird feeling I guess. I will busy to think what they think about me, what should I do to make them laugh, what should I do to make them always be my friend. I will be another me, the strange me. I will become another one. It's tiring me....

But, I realized then, that it's much harder to be lonely. Don't know to whom I can share my worries, to whom I can share my happiness, to whom I can talk all I want to talk, to whom I can show my weakness comfortably, to whom I don't need to pretend to be another one, to whom I can be honest and believe, counting on and protect. I don't know yet, how far I can stand. But when I can't stand it anymore, would you be my friend?

Nov 17, 2009

Keluh

Finally, I realized that it's not easy to be a foreigner, especially for muslim who has so many restriction and limitation in doing something because of religion rules. Tomorrow I will start to be the more strange person I've ever been. I feel uncomfortable inside, just like I have to prepare to accept others reaction.

There will be okay, because I have Allah beside me. But as a human, I still feel it's uneasy,,,,some kind of that feel I can't explain. I just want to cry but I can't, I need someone to share but I can't say anything, I need someone beside me, but there is no one here. This feeling is slaving me completely.

Rabb, it's really hard for me,,,it's too hard for me,,,

Nov 16, 2009

Today there is nothing special happened, but I get my spirit back to me....finally ...Yatta!
Get it is easier than keep it, I guess...

Start from today, there will be no hesitation anymore...My chance only today, and today will never be repeated. Do it now, or I will lose my chance. Allah has given me so many chances, but I trifled it away. And Allah gave me once more chance, I should not waste it, right?

Yesterday is history, we couldn't change it, we can only learn important thing from it. Tomorrow is still a mystery, we don't know what will happen and what we will be. But today is a gift, our chance is here. Never waste it, do the best, here, now,,,,make my every single day be the best day I've ever had, so I will never repent it...


Would You be Happier?

Have you ever wonder where the story ends, and how it all began, I do
Did you ever dream you were the movie star with popcorn in your hand, I did
Do you ever think you're someone else inside, when no one understands you are
And wanna disappear inside a dream but never wanna wake, wake up
Then you stumble on tomorrow, and trip over today
Would you be happier if you were someone together
Would the sun shine brighter if you played a bigger part
Would you be wonderful if it wasn't for the weather
You're gonna be just fine

Are you not afraid to tell your story now, when everyone is done it's too late
Was everything you've ever said or done not the way you planned, mistake
So you promised that tomorrow, be different than today
Would you be happier if you were someone together
Would the sun shine brighter if you played a bigger part
Would you be wonderful if it wasn't for the weather
You're gonna be just fine
I think you're gonna be just fine
You're gonna be just fine
So don't worry baby

You're racing for tomorrow, not finished with today

Would you be happier if you were someone together
Would the sun shine brighter if you played a bigger part
Would you be wonderful if it wasn't for the weather
I think you're gonna be just fine

Would we be happier if we were someone together
Would the sun shine brighter if we played a bigger part
Would we be wonderful if it wasn't for the weather
I think we're gonna be just fine
I think you're gonna be just fine

Don't worry baby
Gonna be just fine
Don't worry honey
Gonna be just fine
Don't worry baby
Gonna be just fine

Just because I like this song, that's why I copied it and pasted it here,,,,^^

Nov 15, 2009

It will be in Japanese and English

I plan to post all of my written in Japanese and english. Of course there are several reasons behind it. I have to improve my Japanese and my English ability as well. Japanese is very important for my daily life, and also for academic life for next year. I will try my best to think, talk, and write in Japanese, and I have a target by next 4 months my japanese ability will be equal with level 2 JLPT. Of course it is not easy as we talk, but I will do my best,,yosh!

For english, I still believe that this is first language must be learned, because it is an universal language which can be used everywhere we are, in all places in the world. And after start to learn japanese, I feel like loose my english ability. Maybe it caused by a completely different grammar between them. So finally 3 languages mix each other in my mind. That's why I want to restart learning english beside japanese.

Then, next year I plan to start to learn Germany and Korean. This year I will learn Hangeol and Germany alphabet only. Maybe a little basic grammar too. Then next two years, I hope I can start to learn Arabic. The last language I want to learn is Chinese. May be someday...

私は日本語を勉強している

日本に生活を凌ぐために、今からこのブロッグに日本語で書くと思っている。私の当て所は来年の三月日本語のレベルがJLPT(日本語能力試験)レベル2だ。しかし、時々英語でも書くと話す。
JLPT2レベルは1000漢字と6000言葉を覚えられて、日本文典を分かる。
日本語はとても難しいですが、おもしろいと思う。
頑張る!!

Nov 9, 2009

Untuk Seseorang

Senyumanmu seperti matahari di pagi hari. Lembut, cerah, tapi tak berlebihan. Memberikan semangat kepada seluruh alam.

Tatapanmu selembut awan. Tenang, menyejukkan. Menghilangkan keresahan dan kegalauan.

Tutur katamu begitu indah, menentramkan, membawa hanya pada kebaikan. Mengobati luka, menyembuhkan penyakit, menghilangkan ketakutan, memberi kekuatan.

Kesabaranmu laksana bintang. Berjuta, tak terbatas, tak tejangkau akal pikiran. Sering aku bertanya, terbuat dari apa hatimu itu? Mungkin dari cahaya, mungkin dari permata. Yang jelas, hatimu adalah hati yang langka. Yang tak semua manusia dikaruniakan untuk memilikinya.

Mungkin gambaranku terlalu sempurna untukmu, karena bagaimanapun engkau tetaplah manusia. Tapi begitulah engkau di mataku. Manusia, tapi istimewa.

Terima kasih untuk hari-hari yang telah kita lalui, dalam tangis, dalam tawa, dalam sedih, dalam suka....terima kasih...

Terima kasih untuk telinga yang telah kau sediakan untuk mendengarkan segala keluh kesahku, mulut yang tak hentinya mengingatkanku dan menasihatiku, mata yang selalu memandangku dengan hangat, tangan yang selalu ada untuk memelukku, dan hati yang selalu sabar menghadapiku...

Maafkan jika tak pernah mampu aku membalas semua itu, maafkan jika lebih sering aku merepotkanmu, maafkan untuk semua ketaksempurnaanku...

Aku mencintaimu, sangat...dan aku ingin kau selalu bahagia dimanapun berada...


*selepas obrolan pelepas rindu dengan seorang sahabat yang kuanggap lebih dari sekedar saudara*

Nov 8, 2009

Betapa Setiap Tetes dan Remah itu akan Dimintai Pertanggungjawabannya

Hari ini, setelah tanpa sengaja membaca beberapa postingan di beberapa blog,,,saya tersentak. Ya, setiap tetes yang mengaliri kerongkongan kita, setiap remah yang menyesaki lambung kita...sesungguhnya akan dimintai pertanggungjawabannya. Sesungguhnya akan mempengaruhi kualitas hubungan kita denganNya...mempengaruhi diterima tidaknya amal ibadah kita...

Halal haramnya makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita, yang sari-sarinya akan mengalir ke seluruh tubuh kita lewat darah,,,,betapa tak jarang saya tak terlalu ambil pusing terhadapnya. Saya ingat ketika masih di Indonesia, tak pernah saya bertanya kepada penjualnya apakah ayam goreng yang saya beli tadi disembelih dengan menyebut asma Allah, apakah sate yang saya pesan tadi benar-benar halal, apakah...apakah...

Terlalu nyaman nampaknya saya hidup di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia itu, sehingga merasa terlalu aman tanpa prasangka ketika berurusan dengan makanan. Sekarang, ketika saya berada di tempat yang tak mengenal agama, terasa sekali bahwa untuk sekedar urusan makan saja bisa menjadi urusan yang meruwetkan pikiran. Di tempat tinggal saya sampai beberapa bulan ke depan ini, mau tak mau saya harus makan di kantin yang telah disediakan. Meski dari awal saya telah mengkomunikasikan apa-apa yang bisa saya makan dan apa-apa yang tak boleh saya makan, nampaknya emak-emak koki di sini tak sepenuhnya mengerti. Tak jarang dulu sajian yang telah disediakan di piring-piring, masih ada daging babinya. Dan ketika saya pesan, dengan entengnya mereka memindahkan daging babinya dan memberikan piring itu untuk saya....what?! saya hanya bisa merespon dengan bengong dan pasrah menerima piring itu, dengan tidak menyentuh makanan dan bagian piring 'bekas babi' tadi...

Belum lagi soal tetek bengek food additive yang tak jelas asal usulnya, yang terdapat di hampir semua makanan. Emulsifier, lemak, bahkan ragi pun tak luput dari serpihan-serpihan barang haram... Lebih menyedihkan lagi saat-saat belanja di sini menjadi saat-saat yang melelahkan dan menyengsarakan bagi saya. Jauh sekali dari waktu dulu masih di tanah air, saat belanja adalah saat paling membahagiakan tentunya buat pada wanita.... Menyengsarakan karena saya menjadi orang yang buta huruf di sini. Semua komposisi makanan dan minuman tertulis di kemasan dalam untaian benang-benang kusut. Kalaupun saya bisa membacanya, harus menelan kenyataan lebih pahit lagi bahwa saya tak mengerti apa artinya...T.T

Saya harus lebih aware lagi soal apa-apa yang masuk ke dalam perut saya...dan tak lupa untuk selalu meminta penjagaanNya dalam setiap detik hidup saya, termasuk penjagaan dari makanan dan minuman yang tak halal....karena tak jarang itulah yang mempermudah setan menjerumuskan...

Nov 4, 2009

Aku Jatuh Cinta pada Matahari

Aku jatuh cinta pada Matahari. Jatuh cinta pada cahayanya. Cahaya yang membuat hilang semua gulita. Cahaya yang begitu besar energinya. Cahaya yang bermanfaat bagi sekitarnya. Cahaya yang tak pernah hilang dari semesta, duapuluh empat jam lamanya. Cahaya keemasannya yang memberikan semangat dan energi baru di pagi hari, cahaya putihnya yang menyilaukan dan memanaskan di siang hari, cahaya yang meneduhkan dan membawa kerinduan pada kampung halaman di sore hari, pun cahaya yang dititipkannya pada sang Rembulan di malam hari. Cahaya yang lembut, cahaya yang terang, hingga cahaya yang garang, aku mencintai semuanya...

Aku jatuh cinta pada matahari. Jatuh cinta pada kesombongannya sebagai makhluk paling terang di Tata Surya ini. Kesombongan yang tak bisa diingkari, karena bagaimanapun dia tetap yang paling terang nampak dari sini. Tanpa dia, tak akan hujan turun di muka bumi. Tanpa dia, tak akan bisa fotosintesis terjadi. Tanpa dia, tak akan ada bumi ini. Ya, dia makhluk penting, karenanya dia sombong memamerkan energinya ke seluruh semesta. Tapi aku tetap jatuh cinta padanya, bahkan pada kesombongannya...

Aku jatuh cinta pada Matahari. Jatuh cinta pada kepatuhannya. Kepatuhan akan perintah Tuhannya. Tak pernah sekalipun dia mengingkari perintahNya, apapun, kapanpun, selamanya. Meski dia bercahaya, patuhlah ia ketika Tuhannya memerintahkannya untuk bersembunyi di balik mendung tebal yang menutupinya, menyembunyikan sinarnya. Meski dia berkuasa, patuhlah ia pada perintah Tuhannya yang menyuruhnya mendekam di balik rembulan yang sehari-hari menjadi pengawalnya, saat gerhana tiba. Apapun perintah Tuhannya, tak pernah sekalipun ia mengingkarinya...

Aku jatuh cinta pada Matahari. Jatuh cinta pada kesetiaanya. Setia pada sang Bumi yang menjadi pendampingnya. Tak pernah satu detikpun ia lalai menerangi sang Bumi. Tak pernah satu detikpun ia terlambat memenuhi janji. Selalu menjaga Bumi, hingga akhir zaman nanti...

Entahlah, apakah itu alasan yang cukup untuk membuatku jatuh cinta, tapi harus kuakui, sejak pertama mengenalnya, paling tidak hingga saat ini, aku merasa benar-benar jatuh cinta pada Matahari...