Total Pageviews

Aug 4, 2012

Untuk Seseorang

Senyumanmu seperti matahari di pagi hari. Lembut, cerah, tapi tak berlebihan. Memberikan semangat kepada seluruh alam.

Tatapanmu selembut awan. Tenang, menyejukkan. Menghilangkan keresahan dan kegalauan.

Tutur katamu begitu indah, menentramkan, membawa hanya pada kebaikan. Mengobati luka, menyembuhkan penyakit, menghilangkan ketakutan, memberi kekuatan.

Kesabaranmu laksana bintang. Berjuta, tak terbatas, tak tejangkau akal pikiran. Sering aku bertanya, terbuat dari apa hatimu itu? Mungkin dari cahaya, mungkin dari permata. Yang jelas, hatimu adalah hati yang langka. Yang tak semua manusia dikaruniakan untuk memilikinya.

Mungkin gambaranku terlalu sempurna untukmu, karena bagaimanapun engkau tetaplah manusia. Tapi begitulah engkau di mataku. Manusia, tapi istimewa.

Terima kasih untuk hari-hari yang telah kita lalui, dalam tangis, dalam tawa, dalam sedih, dalam suka....terima kasih...

Terima kasih untuk telinga yang telah kau sediakan untuk mendengarkan segala keluh kesahku, mulut yang tak hentinya mengingatkanku dan menasihatiku, mata yang selalu memandangku dengan hangat, tangan yang selalu ada untuk memelukku, dan hati yang selalu sabar menghadapiku...

Maafkan jika tak pernah mampu aku membalas semua itu, maafkan jika lebih sering aku merepotkanmu, maafkan untuk semua ketaksempurnaanku...

Aku mencintaimu, sangat...dan aku ingin kau selalu bahagia dimanapun berada...


*selepas obrolan pelepas rindu dengan Mbak Wida...kangen!*

Perjalanan (8)


Mendengar suara medok mbak-mbak di seberang sana, si Gadis hanya bisa menghela nafas. Bukan jadi sesak napas gara-gara mendengar kemedokan suara beliau, tapi karena apa yang beliau ucapkan.
“Dhitunggu hari senen bhuwat wawanchara yha mmbbak. Dhi kantor kami, tepat jham semmbbilan paghi. Sekiyan, trima kasih.” Si mbak medok menutup teleponnya, meninggalkan si Gadis dalam dilema.

Kalo kerjaan ini diambil, dia bisa tetep berada di dekat ibuknya, sesuai keinginannya selama ini. Sang perempuan tercinta mulai menurun kesehatannya, dan vonis gagal jantung beliau selalu mencemaskannya. Kalo dia memutuskan untuk bekerja di pabrik obat ini, sedikit dia bisa meringankan beban keluarganya. Paling tidak tak lagi menjadi beban keluarga. Hal yang selama ini juga diinginkannya. Kalo dia benar-benar yakin untuk bekerja di pabrik obat ini nantinya, semuanya akan nampak sederhana. Tak rumit. Bekerja di dekat-dekat sini saja, hidup sederhana, tapi bahagia.

Si gadis menggingit-gigit kukunya. Kalau pekerjaan ini diambil, bagaimana dengan nasib rencana kuliahnya ke negeri Sailormoon? Memang masih dalam proses seleksi. Dan kemungkinan diterimapun tak begitu besar. Tapi gimana kalo nanti dia diterima? Bukankah dzalim pada si pabrik obat kalo di tengah jalan dia berhenti bekerja dan kabur mengejar mimpinya foto bersama dan mendapatkan tanda tangan Nobita? Akan sangat tak adil buat si pabrik obat nantinya. Tak pantas rasanya si Gadis memaksakan egonya mencari jalan aman seperti ini. Mungkin dia harus menolak panggilan wawancara ini. Sejenak dia memandangi telepon genggamnya, ragu hendak menelpon si mbak medok di pabrik obat sana.

Tapi hatinya kembali berdebat. Apa iya harus dia tolak panggilan wawancara ini? Gimana kalo ternyata dia gagal dalam proses seleksi beasiswa nantinya. Apa iya dia takkan menyesal semenyesal-menyesalnya? Pekerjaan tak didapat, begitupun dengan beasiswa. Lalu mau jadi apa dia? Anak rumah tangga? Mana ada status jadi anak rumah tangga…

Ini panggilan wawancara pertamanya setelah berpuluh surat lamaran tak ada kabarnya. Jujur, si Gadis mulai down dan merasa sangat minder dengan dirinya, merasa sangat bodoh dan tak berguna. Panggilan wawancara ini sedikit banyak membesarkan hatinya. Berpikir lama, meminta petunjuk Tuhannya, si Gadis tersenyum mantap juga akhirnya. Oke, keputusan sudah diambil. Bismillah, saya akan menepati untuk datang wawancara. Semoga ini pilihan yang takkan disesalinya.

***

Hari senin pagi, si Gadis telah siap berbaju rapi (well, rapi versi si Gadis belum tentu disepakati sebagai rapi secara umum :p). Si Mas bersiap-siap mengantarkannya. Takzim dia cium punggung tangan keriput perempuan yang paling dicintainya, mencium pipi kiri-kanan dan keningnya sambil tak lupa meminta doa. Mantap membulatkan tekad, dia telah memutuskan masa depannya.

Pabrik obat itu kecil, tak sebesar pabrik obat yang pernah dia lihat di kota Kembang dulu. Berada di tengah sawah, angin segar tak henti bertiup semilir. Halamannya tak begitu luas, dengan kebun anggrek yang luas di samping pos satpam, membuatnya bertanya-tanya…ini pabrik obat apa pabrik bunga ya?

Pak satpam memintanya mengikutinya menuju lobi kantor, yang lumayan luas dengan hiasan lukisan besar dan beberapa pajangan. Anehnya, ga ada pajangan produknya. Yakin, ga akan ada yang menyangka kalo ini pabrik obat. Orang paling akan menyangka ini kantor biasa. Si Gadis lagi-lagi membatin.

“Mmbbak Ghadhis yha? Monggo silahkan isi bhuku tamu ini,” ramah suara yang dikenalnya menyapa dari balik meja resepsionis. Ah, ini pasti mbak medok yang minggu lalu menelponnya. Sambil tersenyum menyapa mbak medok, ditulisnya nama, tanda tangan dan keperluannya.

“Dhitunggu dhisitu dhulu yha mmbbak, nanti dhipanggil kalo sudhah waktunya…” mbak medok menunjukkan sofa di tengah ruangan. Ternyata ada juga beberapa pelamar lain selain dirinya, batin si Gadis melihat beberapa mbak-mbak dan mas-mas juga duduk berjejer di sana.

Menyamankan diri, si Gadis duduk menyender ke sofa, menunggu saat namanya dipanggil untuk giliran wawancara. Saat matanya mulai terasa berat, akhirnya dipanggil juga ia ke ruangan wawancara.

Ruangan itu luas dengan banyak kursi berjajar seperti ruang rapat. Sesosok perempuan manis telah duduk di sana.

“Mbak gadhis yha? Silahkan dhudhuk, dhan tolong kerjhakan soal-soal ini. Waktu tesnya dhua jham dari sekarang.” Tanpa basa-basi si mbak manis yang kemudian dia ketahui sebagai jeneral menejer pabrik obat itu menyodorkan setumpuk kertas ke si Gadis. Si gadis hanya bisa terpana. What??? Tes??? Tes apa woi?! Katanya wawancara??? Ini gimana sih??? Bilang kek pas di telpon kalo ada tes segala. Well, ini teriakan hati si Gadis aja…mukanya emang langsut pucat tapi tangannya yang udah biasa membantah perintah atasan cekatan mengambil tumpukan kertas itu sambil kepalanya mengangguk berucap “iya, Bu.” Pengen muring-muring rasanya ke si mbak medok. Awas ya mbak, kalo ketemu tak gigit sampeyan nanti.

Grooookkkkk. Apa-apaan ini??? Mata si gadis terbelalak, membaca tulisan demi tulisan di atas kertas itu. Ini malah lebih susah dari pertanyaan-pertanyaan sidang di kampus Gadjah duluuu. Pertanyaan-pertanyaan yang mirip kumpulan soal UAS semua mata kuliah dari tingkat satu sampai tingkat empat (cem dia inget aja mata kuliah dari tingkat satu sampai tingkat empat :p) plus tes bahasa inggris, matematika, dan tes psikologi. Semua dalam dua jam. Padahal otaknya sudah terlajur bersih seperti abis dicuci pake Baycline, begitu menerima ijazah di Sabuga.

Ini pabrik mau nyari pegawai apa nyari kandidat penerima nobel yak? Makjang, pabrik obat sekecil ini tesnya aja udah kaya gini. Gimana pabrik obat kelas dunia yak? Si Gadis menggumam sambil dalam hati pengen mengunyah kertas-kertas itu.

Lagi-lagi, setengah hati setengah lupa setengah ngawur setengah ngantuk dikerjakannya soal-soal itu. Sebagian kecil (keciiiiiiil banget) dikerjakan sambil berpikir keras, sisanya (sebagian besaaaaaar banget) dikerjakan sambil setengah mengantuk.

Setelah mabok dengan kertas-kertas tes selama dua jam, ternyata Sipakbos direktur langsung akan mewawancarainya. Si Gadis sudah kehilangan selera bertarung buat wawancara gara-gara tes dadakan yang ga berperikeotakan tadi. Tanpa rasa deg-degan sama sekali, dia menghadap Sipakbos yang ternyata masi muda berkacamata dan berkemeja. Basa-basi Sipakbos menanyai nama, alamat, nomor telpon, hobi, cita-cita, nomor sepatu (eits, yang dari nomor telpon tadi boongan doang…heheu). Bertanya latar belakang pendidikannya, tema tugas akhirnya, dan motivasinya melamar kerja di perusahaannya. Standar wawancara kerjalah (cem udah berpengalaman wawancara kerja aja….baru pertama kalinya padahal).

Lancar dia jawab semua pertanyaan beliau tanpa menunjukkan muka agresif banget pengen kerja di pabrik obat itu. Bukan apa-apa sih, cuman masi mabok aja sama tes barusan, dan masi kesel aja sama si mbak medok.

“Oke, sekian saja wawancaranya. Mohon tunggu hasilnya dalam minggu ini, kami akan menghubungi mbak bila dinyatakan diterima di perusahaan kami,” Sipakbos menutup map di depannya dan bersiap meninggalkan ruangan. Tiba-tiba si Gadis teringat sesuatu.

“Ng...nganu Pakbhos, sebhenarnya adha yang ingin saya sampeykan," gugup si Gadis ketularan medoknya si mbak medok, tapi dia memberanikan diri menatap langsung mata si Pakbos.

“Oh ya? Ada apa?” si Pakbos mengurungkan niatnya berdiri meninggalkan kursinya.

Perjalanan (7)


Si Gadis mengedarkan pandangan ke dalam warung. Hanya ada ibu-ibu penjualnya. Warung sepi. DIlihatnya masakan yang tersusun rapi di etalase gerobak. Rendang, rendang, rendang, rendang, dan daun singkong (well, nama masakan padang yang dia kenal memang cuman rendang).

"Bapak mau makan apa?" si Gadis bertanya pada si profesor yang masih nampak takjub melihat tempat makan ini.

"Terserah kamu saja," tersenyum si profesor masuk ke dalam warung.

"Buk, rendangnya dua ya (seriusan si Gadis emang cuman tau nama rendang doang, makanya dia pesen itu) sama es teh manis dua ya." Si Gadis menyusul masuk ke dalam warung.

Mulailah mereka berbincang dengan lebih rileks. Mulai soal krisi ekonomi, susahnya mencari pekerjaan, cita-cita si Gadis, sampai pulau Bali. Si Gadis benar-benar menemukan sosok seorang Bapak di dalam diri profesor Ganteng.

"Kamu ga pengen jadi dosen?" tanya sang profesor.

"Pengen sih Pak. Tapi susah, kan saya belum ambil program profesi."

"Susah ya jadi dosen di sini?"

"Iya Pak. Dan penghargaan secara materi kepada orang berilmu di negri saya ini ga setinggi pernghargaan kepada artis ato anggota dewan yang merasa terhormat Pak. Sangat kecil."

"Oya? Trus kenapa kamu pengen jadi dosen?"

"Biar ilmu saya guna Pak. jadi hidup saya selama di dunia berguna juga." Sambil menyuap nasi Padang bermenu rendang, rebusan daun singkong, dan sambel ijo super pedes dan super banyak, mereka berbincncang ringan. (Iya, saya tau apa yang kalian pikirkan. Udah gila emang si Gadis, ngasi turis negara J yang memegang kunci beasiswanya makanan pedes di gang becek plus es teh yang esnya kemungkinan dibikin dari air kali. Tapi percayalah, nanti...sebentar lagi...si Gadis akan sadar ketotolannya seharian ini).

"Pak tau ga, kalo banyak orang ngira Bali itu nama negara dan Indonesia itu nama pulau di Bali loh," si profesor tergelak sambil tak henti mengusap kening dan mukanya yang basah keringat. Ya iyalah, gimana ga banjir keringat. Tangah hari di belantara ibukota yang super hot hot pop dikasi makan rendang plus sambel ijo super pedes. Dia orang negara J, bukan negara B atau I yang terkenal dengan cabe pedesnya.

Tapi dua jam berbincang di warung Padang benar-benar terasa menyenangkan. Waktu berlalu tanpa terasa. Si profesor tandas menghabiskan nasi padang yang porsinya lumayan kuli dan es tehnya, sementara si Gadis hanya mampu menghabiskan setengahnya. Warung mulai ramai dnegan para buruh yang menatap heran ke arah mereka berdua. Ini ada orang ngomong pake bahasa inggris kok makan di warung, begitu mungkin pikirnya.

Akhirnya tiba saatnya si Gadis harus pulang. Berpamitan, si profesor memaksakan mengantarnya sampai halte busway terdekat, sampai de depan bis, meski harus membayar karcis masuk. sepanjang perjalanan menuju halte, profesor banyak bertanya tentang beberapa pengamen, anak jalanan, dan gelandangan yang mereka lihat di sepanjang jalan. Si Gadis tak berusaha menutupi apapun, dia jawab semua apa adanya. "Inilah tugas kami, Pak. PR buat bangsa kami masih sangat banyak," si Gadis tersenyum pahit.

Si Bapak mengantarkan sampai si Gadis benar-benar masuk ke dalam bus. Melambaikan tangan dengan senyuman yang tak juga hilang, merekapun akhirnya berpisah...

***

Sesampai di rumah Abang, kewarasan si Gadis akhirnya kembali. Ow Em Ji, apa yang udah dia lakukan seharian ini??? Ngajak makan di warung? Gimana kalo si profesor tiba-tiba kena tipes? Ato infeksi yang lebih parah lagi? Trus masuk rumah sakit?

Sudah hilang pikirannya tentang beasiswa. Udahlah, ini mah ga akan ketrima juga. Ngejawab soal ga bisa, malah ngeracunin profesornya. Yakin 99,9999% ga bakal ketrima. Dan si Gadispun tak berharap banyak. Tapi masih ada yang mengganggu pikirannya. Kabar si profesor pasca makan di warung bersamanya! Gimana kalo tiba-tiba masuk rumah sakit? Gimana kalo tiba-tiba dia ditangkap polisi gara-gara bikin sakit turis?

Khawatir, si Gadis segera menuju warnet, mengirim imel kepada si profesor, dan menanyakan kabar sekaligus meminta maaf telah memberinya makanan terpedas dalam hidup si profesor. Semalaman si Gadis komat-kamit berdoa semoga profesor baik-baik saja, semoga sistem pencernaan profesor sekuat baja, semoga ga terjadi apa-apa. Ga ketrima beasiswa gapapa, yang penting profesor ga kenapa-napa, doa si Gadis.

Syukurlah, keesokan harinya imel balasan dari profesor mampir ke inboxnya. Mengabarkan bahwa beliau sehat-sehat saja, kemarin sangat menyenangkan, makanan yang enak, perbincangan yang mengasyikkan, dan beliau baru saja pulang dari satu mall besar di ibukota membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negaranya. Alhamdulillah....si Gadispun merasa lega.

Segera ditelpon Ibuknya, mengabarkan soal wawancara dan kemungkinan besar ia takkan lolos seleksi universitas, dan akan segera pulang ke kampung halamannya. Tapi ternyata, kekhilafan profesor seperti infeksi, menular juga ke universitas K, yang dengan khilafnya mengabarkan bahwa dia lolos seleksi tahap kedua dan akan masuk proses seleksi terakhir untuk memperoleh beasiswa dari depdikbud negri sakura....

Perjalanan (6)


Pandangan penuh selidik pak satpam di depan dan bapak-bapak tukang ngebukain pintu mobil cukup membuatnya was-was. Gimana kalo dia disangka mo ngutil. Eh, tapi mo ngutil apaan di hotel juga. Si Gadis melangkahkan kaki menghampiri meja resepsionis, meminta mbak-mbak cantik di balik meja menghubungi profesor. Sambil menenangkan hati, duduklah ia menunggu sang profesor di salah satu sofa di lobi. Agak-agak melirik kaki orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Siapa tahu ada yang berkaus kaki merah bermerk Boston.

Tak lama datanglah seorang laki-laki paruh baya bertubuh tinggi tegap berkaos merah bercelana jeans menghampirinya, dengan muka berseri dan senyum yang nyaris tak lepas dari wajahnya. Kesan pertama si Gadis saat beliau, mengingatkan dengan almarhum Bapaknya. Entah kemiripan mereka di sebelah mananya. Tapi si Gadis merasakan dadanya bergetar seperti melihat lagi Bapaknya.

Bergegas si Gadis berdiri menyambut beliau. Sudah lupa pada rencananya mengecek kaus kaki sang profesor, si Gadis terpana melihat laki-laki di depannya, mirip sekali sama Bapak...entah dimananya.... "Hai, kenalkan saya profesor Ganteng. Apa kabar?" sang profesor menyapa.

"Eh, iya...saya Gadis Bergusi, nama panggilan saya sebenarnya Usi...ng...kalau di bahasa negara Anda, Usi itu artinya Sapi. Jadi nama panggilan saya Sapi," si Gadis memperkenalkan diri dengan cara memalukan yang pasti takkan dilupakan profesor Ganteng seumur hidupnya. Sepertinya si Gadis sudah saatnya memikirkan untuk mengambil kelas di sekolah kepribadian -_-"

"Hahaha...begitu ya? Jadi saya panggil kamu Sapi gapapa?" profesor Ganteng tergelak. Si Gadis nyengir. Merekapun segera mencari tempat duduk di restoran hotel. Setelah sedikir berbasa-basi, profesor menyodorkan soal kalkulus.

Dengan tangan gemetar dan muka pucat pasi si gadis menerima kertas soal dan jawaban. Soalnya cuman ada tiga. Tapi tak satupun yang Gadis mengerti. Jangankan ngerti jawabannya, pertanyaannya aja si Gadis ga ngerti. Tapi tanggung, sayang kalo kertas jawaban dibiarkan bersih tanpa coretan. Berapa pohon yang ditebang demi membuat kertas ini coba? Pokoknya harus ada coretan! Si Gadis mencoret-coret kertas jawabannya sepenuh mungkin. Tiga soal pendek dan tiga halaman kertas jawaban terisi penuh coretan. Satu jam yang melelahkan.

Profesor Ganteng menanyainya tentang soal barusan. "Susah, Pak. Saya alergi sama itung-itungan," jujur si Gadis menjawab. "Haha, gapapa...anak jurusan obat macam kamu gapapa ga bisa ngelipat integral. Yang penting bisa ngelipat brotowali buat dijadiin obat," hibur beliau. Si Gadis sedikit terhibur.

"Oke, sekarang kita mulai wawancaranya ya?" si Gadis mengangguk. "Pertanyaan pertama, kenapa kamu mutusin buat ikut program beasiswa ini?"

"Karena jaman sekarang susah nyari kerja, Pak. Saya aja ngelamar kerja ga dapet-dapet. Kalo ikut beasiswa ini ada peluang mencari kerja di negara Anda. Itu kesempatan emas kalo saya pikir." Si Profesor mengangguk-angguk.

"Trus kenapa di lab saya?"

"Karena lab Anda peralatannya lengkap, Pak."--ini jawaban spontan sodara-sodara, karena si Gadis tak mempersiapkan apapun untuk wawancara ini.

"Lengkap? Misalnya? Darimana kamu tahu?" dari profesor berkerut.

"Di website, Pak. Banyak mikroskopnya. Ga kayak lab saya pas kuliah dulu. Musti ngantri kalo mau pake mikroskop."--sumpah ini jawaban polos bin oon binti dudul yang spontan terceplos dari mulut si Gadis.

Wawancara selanjutnya lebih seperti percakapan biasa. Tentang perbedaan budaya, kemampuan adaptasi si Gadis, kuliah semasa S1nya, dan hal-hal standar lainnya.

Tepat pukul 12 siang, wawancara berakhir. Si Gadis bersiap hendak pamitan ketika profesor Ganteng mengajaknya makan siang. Wihiw, rejeki nih ditraktir makan siang, sorak hati si Gadis.

"Saya pengen makan masakan asli negara ini. Tolong tunjukin saya dimana kita bisa makan siang bersama," pinta si Profesor.

"Ke restoran hotel aja Pak. Pasti ada masakan negara saya," saran si Gadis, sambil mengajak profesor menuju buffet hotel.

"Nggak ah, saya maunya makan di luar hotel," Profesor menolak.

Haduh, Pak! Kalo saya hapal tiap jalan tikus di ibukota ini, kalo saya orang dengan navigasi yang beres, kalo saya pernah tinggal di ibukota ini, tentu saja saya pasti akan mengajak anda ke rumah makan masakan asli negara saya yang terenak di sini. Mangsalahnya saya buta sama sekali sama ibukota ini, Bapaaaakkk. Sendirian aja tersesat. Gimana kalo saya ajak Bapak muter-muter tapi malah ilang? Trus besoknya saya masuk koran dengan headline 'Seorang Sapi menyesatkan Profesor Ganteng dari Negeri Sakura' trus ditangkap polisi? Ibukota ini kejam Bapakkkk....lebih kejam dari Ibu jariiii...gemas si Gadis berteriak dalam hati.

Berhubung ini hari jum'at, si Abang pasti sedang sholat jum'at. Tak tahu kepada siapa dia harus bertanya. Tapi tak kuasa menolak, berusaha menjadi tuan rumah yang baik, si Gadis mengajak profesor keluar dari hotel (what? keluar dari hotel? ada yang salah nih...)

Pikiran pertama si Gadis adalah, rumah makan terdekat yang cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Kenapa? Tentu saja biar ga ilang! Tapi dia benar-benar buta daerah sini. Aha! Dilihat sesosok berbaju putih bercelana biru tua di depan hotel. Pak Satpam! Ayo tanya beliau, siapa tau beliau punya rekomendasi tempat makan yang enak (well, kesederhanaan si Gadis mencakup cara berpikirnya juga. Dari pada nanya resepsionis dan malah ditunjukkan restoran di ujung dunia, mending nanya satpam dimana dia biasa makan siang, jadi cukup jalan dan ga bakal ilang).

"Maap Pak, tempat makan terdekat di sekitar sini dimana ya?"

"Tempat makan? Warung maksutnya?" pak Satpam nampak ragu menjawab, sambil melihat ke arah turis sipit di sebelah si Gadis. Masak iya si mbak ini mo ngajak turis makan di warung, begitu mungkin pikirnya.

"Iya, warung ato depot ato rumah makan. Yang deket aja, yang cukup jalan kaki bisa nyampe." si Gadis meyakinkan pak Satpam.

"Ada sih Neng, deket sini. Keluar hotel, nyebrang, trus ada gang kecil, nah di pinggir gang itu ada warung nasi Padang Neng. Biasa tempat makan buruh-buruh gitu sih. Gangnya agak-agak becek gitu deh..."

"Makasih banyak, Pak," tersenyum ditinggalkannya si pak Satpam yang bengong melihatnya mengajak si turis ke arah yang baru saja ditunjukkan.

Ibukota yang panas dengan jalanan yang padat. Tanpa ragu si Gadis mengajak profesor menyeberang jalan ramai tanpa lampu lalu lintas. "Sini Pak, ikutin di belakang saya ya. Butuh ketrampilan tertentu (well, sebut saja "kesaktian") buat nyebrang di Ibukota ini Pak," si Gadis cuek mengajak profesor menyeberang jalan.

Tak lama, sampailah mereka di gang yang dituju. Benar ternyata, ada warung nasi padang di situ. Bukan rumah makan loh ya. Warung. We A Er U En Ge. Hanya gerobak kecil dengan makanan seadanya plus tenda di sebelahnya. Dan benar kata si pak Satpam, jalanan di depan warung memang becek....

Apakah si Gadis serius ngajak makan pak profesor Ganteng di situ? Tunggu sambungannya ya...

Perjalanan (5)


Ada bagian yang belum diceritakan dari proses seleksi beasiswa si Gadis. Ini cerita setelah si Gadis dinyatakan lolos seleksi pertama, berdasarkan aplikasi telat yang dikirimnya ke negri Sakura, sampai dia dinyatakan lolos seleksi kedua, seleksi dari universitas K--beberapa saat sebelum menerima panggilan wawancara dari mbak medok. (lihat Iseng - part 4)

Demi membaca imel yang dikirimkan pihak universitas K bahwa aplikasinya lolos seleksi, wajah si Gadis jadi berseri-seri seperti habis dilamar pangeran Brunei. Kabar bahagia dari negri Sakura itu tak sabar dikabarkannya pada keluarga.

"Alhamdulillah lolos seleksi tahap satu, Buk. Aplikasinya Alhamdulillah selamat sampe sana, ga jadi dimakan ikan Paus di jalan. Tapi masih ada dua seleksi lagi. Minggu depan berangkat ke Ibukota buat tes tulis sama wawancara. Kalo lolos ini, baru tahap akhir, seleksi beasiswa sama depdikbudnya negara J sana." Antusias si Gadis bercerita.

Tapi antusiasme ini tak bertahan lama ketika dia mengecek bahan ujian tes tulisnya minggu depan. Wajah berseri seperti habis dilamar pangeran Brunei berubah jadi ngeri seolah-olah sang pangeran Brunei tiba-tiba berubah menjadi Grandong. Alamakjang, tes tulisnya ternyata kalkulus intermediet (karena pada dasarnya program beasiswa ini untuk jurusan teknik), pelajaran antah berantah yang entah pernah dia pelajari di tingkat satu kuliah atau tidak--mengingat si Gadis nyaris selalu tidur atau menggambar di kelas kalkulus dan memfotokopi catatan temannya sehari sebelum UTS atau UAS (jelas ga guna, karena mata kuliah ini sama sekali bukan hafalan -__-").

Sebenarnya bahan ujian ini sudah tertulis di brosur beasiswa, tapi kebiasaan buruk si Gadis, tak pernah lengkap membaca informasi, dan dalam waktu kurang dari seminggu, dia harus menyiapkan semuanya. Berhubung otaknya bersih suci dari makhluk bernama kalkulus, mau tak mau dia harus mencoba mencemarinya dengan integral berlipat-lipat seperti ketupat dan konco-konconya. Dikontaklah teman se-kontrakan selama kuliah di kota kembang yang jurusan matematika. Kali aja bisa diminta ngelesin kilat, pikir si Gadis. Apes, temannya pulang kampung. Berita baiknya, dia bersedia meminjamkan buku yang akan dititipkan lewat teman.

Oke, berarti si Gadis harus ke kota kembang sebelum ke ibukota. Karena sudah tak ada waktu lagi, si Gadis memutuskan untuk pergi ke kota kembang tiga hari sebelum wawancara. Menginap semalam di sana, menumpang di kontrakan yang ditinggalinya selama kuliah di sana, lalu segera pergi ke kota T dimana kakak terdekat keduanya--sebut saja Bunga…eh Abang---tinggal, dan cukup dekat dengan Ibukota.

Menumpang kereta ekonomi, si Gadis menuju kota kembang. Perjalanan semalam suntuk di dalam kereta yang terkadang tak tersedia tempat duduk membuat badannya terasa remuk. Tapi favoritnya tetap kereta ekonomi ini, sejak dulu sekali saat masih kuliah di kota kembang. Bukan hanya soal pengiritan, tapi si Gadis merasa dia bisa lebih banyak belajar tentang hal-hal yang akan sulit dia temui di luaran sana di kereta ekonomi ini. Cerita si Gadis dan kereta ekonomi akan terlalu panjang. Kapan-kapan saja diceritakan, kalo ada kesempatan.

Kembali ke soal kalkulus, pagi hari si Gadis telah sampai di kota kembang. Segera menuju ke rumah kontrakan yang dulu telah ditempatinya selama kurang lebih tiga setengah tahun. Beberapa temannya masih tetap tinggal di situ, membuatnya serasa kembali ke masa-masa kuliah dulu.

Begitu menerima buku kalkulus lanjutan dari sang teman, dibukanya si buku dan mencoba dijejalkannya formula-formula asing di dalamnya ke dalam otaknya. Yeah, ternyata super duper susyeh sodara-sodara. Si Gadis megap-megap tiap mencoba membuka si buku. Alergi tingkat kecamatan. (tentu saja ini lebay)

Sudah tak ada waktu lagi. Si gadis hanya mengerti beberapa bagian dari semua bagian yang dia pelajari. Tapi sudah saatnya pergi ke Ibukota. Sang Profesor khilaf akan datang langsung menemuinya di Ibukota sana untuk mewawancarainya. Antara stress karena tak juga mengerti makhluk bernama kalkulus, grogi hendak menghadapi sang profesor khilaf dan harus diwawancarai dalam bahasa inggris (yang hanya dipelajarinya di bangku sekolah dulu dan tentu saja nyaris tak pernah dipakai), dan ke-buta-peta-ibukota-annya yang tak tahu mana barat mana timur ibukota, si Gadis memutuskan untuk bermain-main saja bersama keponakan-keponakannya selama tinggal di rumah si Abang. Sudah ga berselera lagi menjejalkan rumus atau apapun. Banyak-banyak berdoa saja. Usahanya sudah maksimal, maksimal versi si Gadis.

Imel dari profesor khilaf datang sehari sebelum wawancara, mengabarkan waktu dan tempat wawancara, serta baju yang akan beliau kenakan supaya mudah dikenali. Wawancara dilakukan pukul 9 pagi di lobi hotel tempat si profesor menginap, dan di imel tertulis “find me wearing Boston Red Socks T-shirt”. Mungkin saking stress dan groginya, yang terbayang di otak si Gadis, si profesor akan mengenakan kaus kaki berwarna merah bermerk Boston. Si Gadispun membatin, kenapa make dress code kok yang susah dikenali. Masak iya dia nanti musti ngeliatin satu-satu kaus kaki orang. Kalo pake celana panjang gimana cara taunya kalo kaus kakinya berwarna merah bermerk Boston? Sampai menjelang pergi ke hotel keesokan harinya, si Gadis masih tetap tak mengerti cara ber-dress code orang-orang pinter macam profesor. Bikin susah orang saja, gerutunya.

Dia berangkat lebih pagi, dengan diantar si Abang, karena si Abang khawatir si Gadis hilang di tengah jalan. Kekhawatiran si Abang cukup beralasan mengingat dia pernah tersesat di belantara ibukota saat sendirian mengunjugi si Abang, sampai jam 11 malam baru ditemukan.

Dilangkahkan kakinya ringan ke hotel yang ditunjukkan profesor lewat imelnya. Begitu memasuki halaman hotel bintang lima itu. Terpaku dilihatnya orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Semuanya keren, berjas dan berdasi, bersepatu tinggi, rapi. Dilihatnya pantulan dirinya di kaca bagian depan hotel. Muka tanpa bedak dan berkeringat, bersandal buluk, ber-tas dekil, dan ber-rok yang bagian bawahnya sudah dedel duwel (apa ya bahasa indonesianya? Carut marut? Kocar kacir? Sobek-sobek? Ah, itulah…). Kontras sekali dengan pemandangan sekitarnya. Ah, cuek saja…yang penting dia merasa nyaman.

Perjalanan (4)


 Si Gadis tertunduk lesu. Dipandangnya amplop besar di tangannya.
Sudah banyak yang direpotkan demi kertas-kertas di dalam amplop itu. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan, kesulitan-kesulitan yang berhasil dilewati, malam-malam tanpa tidur yang nyenyak, jantung yang selalu berdegup kencang berlomba dengan waktu. Ada profesor khilaf yang sedang menunggu keseriusannya. Diatas semua itu, ada Ibuk yang telah dikecewakannya. Ah...andai keridhoan Ibuk dia dapat dari awal, mungkin takkan sebanyak ini rintangannya.

Tidak! Ini sudah dekat dengan garis finish! Ga boleh mundur apapun yang terjadi! Ga mau pulang dengan masi bawa amplop ini. Bagaimanapun juga amplop ini harus terkirim. Akan bernasip seperti apa, itu urusan nanti. Si Gadis menegakkan kepalanya.

"Mbak, tunggu bentar ya...saya segera kembali," Bergegas si Gadis menghubungi si Mas meminta pendapat. Lama mereka berdiskusi dan menimbang. Jelas tak mungkin kembali pulang hanya untuk mengambil uang. Tak mungkin pula kakaknya menyusul dengan membawa uang. Jarak yang teramat jauh akan membuat uang sampai di tangannya saat kantor kurir ini sudah tutup. Alhamdulillah, pertolongan Allah sungguh dekat. Ada sepupu yang kuliah di ibukota propinsi---yang nyaris dilupakannya gara-gara panik setengah mati. Segera dihubungi sepupunya yang datang tak lama kemudian membawa kekurangan uang. Akhirnya satu lagi orang tau tentang rencana kuliahnya di negri Sakura...

Begitu amplop diterima si mbaknya -yang bilang kalo si amplop kemungkinan baru akan sampe hari senin- dada si Gadis terasa plong. Mau sampe hari senin juga gapapalah. Dimakan ikan paus di tengah jalan juga gapapa. Yang penting udah ga ada di tanganku lagi, bisik hati si Gadis. Tugasnya tinggal memberi tahu profesor kalo berkas-berkasnya sudah dikirim, dan meminta maaf karena kemungkinan akan sampai terlambat. Kalo diterima sukur…kalo ditolak ya udah…Mungkin ini yang terbaik, pikir si Gadis di perjalanan pulang ke kotanya.

***

Segera setelah sampai rumah, si Gadis menghubungi sang profesor, menceritakan kondisinya yang telat mengirimkan aplikasi dan menanyakan nasip suratnya, apakah akan diterima walaupun terlambat. Profesor baik hati itu benar-benar sudah khilaf rupanya. Beliau menyatakan akan membantu mengurus soal aplikasinya, dan sebagai cadangan dia diminta mengisi berkas-berkas soft copy dan mengirim balik ke profesornya. Si Gadis cuman bisa bengong sambil mengucap hamdalah membaca surat elektronik dari beliau. Menurut, diisinya formulir dan dikirimkannya balik. Namun pak profesor tetap menyatakan bahwa seleksi selanjutnya juga tergantung pihak universitas dan program yang akan diikutinya (kalo ketrima…). Ga ada jaminan apa-apa kalo dia bakal lolos. Si Gadispun tak berharap banyak bakal lolos. Secara dia tak memenuhi kualifikasi dalam hal kemampuan berbahasa jepang. Belum lagi essay tentang perekonomian jepang dan indonesia (makjang, baca koran aja kolom selebriti doang yang dibaca…ga pernah ngikutin berita ekonomi kecuali sesekali berdiskusi dengan si Mas), serta research project yang ditulisnya hanya dalam satu dua malam.

Merasa delapan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen ga bakal ketrima, si Gadis mencoba melupakan soal beasiswa. Dan saat-saat itulah para saudara dan  tetangga mulai menanyainya “Kerja dimana?” (dijawab dengan senyuman, “Belum dapet kerja Bu, masi nyari…”) atau “Kapan nikahnya?” (lagi-lagi cuman tersenyum, “InsyaAllah setelah lebaran Pak…entah lebaran kapan tapinya…hehe…”). Tak bisa dipungkiri hatinya resah. Tak banyak teman sekampung yang bisa kuliah, tapi nyaris semuanya sudah bekerja…atau berkeluarga. Dia yang sudah kuliah jauh-jauh, pulang-pulang cuman jadi pengangguran. Tapi rencana Allah pasti indah, pilihan Allah pasti terbaik. Itu yang selalu dibisikkan hatinya.

Akhirnya tibalah tanggal pengumuman seleksi aplikasi dari universitas. Tak ada rasa deg-degan seperti saat dia mengecek pengumuman SPMB. Biasa saja. Karena dia merasa sudah pasti tak akan diterima. Iseng dicek imelnya di warnet. Dan…heu…kekhilafan kedua ternyata terjadi sodara-sodara…si Gadis cuman bisa plonga-plongo, ga ngerti musti bilang apa membaca isi imel dari penanggung jawab programnya soal lolosnya aplikasinya, dan akan segera memproses untuk seleksi beasiswa. Ini seriusan apa becanda sih? Si Gadis membatin sambil mencubit-cubit tangannya. Delapan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen keyakinan akan ketidak lolosan aplikasinya berkurang drastis menjadi dua pertiganya. Tapi perjalanan masih panjang. Entah apalagi yang akan diminta sebagai syarat mengajukan beasiswa. Entah apa depdikbud negri sakura pada akhirnya akan khilaf juga. Meski si profesor bilang bahwa kemungkinan besar depdikbud akan khilaf juga, who knows...

Keesokan harinya, setelah lebih dari satu bulan tak ketahuan nasip surat lamarannya, tiba-tiba datang panggilan dari pabrik obat di kota kelahirannya memintanya datang untuk wawancara. Dan si Gadis dilanda dilema...(hayah, bahasanya...)

Perjalanan (3)


Bikin paspor, medical check up, bikin research proposal, ambil tes TOEFL, nulis essay, ngisi formulir beasiswa dalam dua minggu adalah gila. Dan si Gadis memang gila. Lebih gila lagi mengingat seluruh aplikasi musti dikirim ke Jepang nan jauh dimato. Pake kurir internasionalpun butuh waktu tak kurang dari tiga hari. Setelah dihitung-hitung, dia punya waktu menyelesaikan kegilaannya hanya dalam sepuluh hari. Tak boleh lebih. Oh ya! Dia harus juga mendapatkan rekomendasi dari dosen atau dekan. God! Kota Kembang itu tak dekat, yang bisa dijangkau hanya dengan ngesot. Lebih lagi, tak mudah mendapatkan rekomendasi, apalagi untuk mahasiswa tukang bolos dan tukang tidur macam si Gadis ini….ada dosen kenal dia aja udah syukur...

Tapi si Gadis sudah memutuskan. Ada profesor yang khilaf di negri jauh sana bersedia membimbingnya, kalo dia berhenti sampai di sini saja, mau ditaruh dimana harkat dan martabat bangsa ini?? (lebay!). Coba saja dulu. Kalo belum mencoba, kita tak akan tahu. Semua yang nampak mustahil kebanyakan karena ketakutan dan kekhawatiran yang kita buat sendiri. Kenyataan sering meleset dari prediksi. Mari kita nekat. Kalopun harus gagal, gagal-lah dengan terhormat. Gagal-lah tanpa penyesalan.

Dan, si Gadis mulai merancang strategi. Diputuskan untuk tak memberitahu siapapun soal ini kecuali ke si Mas, kakak terdekatnya. Bahkan, terpaksa tak memberitahu Ibuk, khawatir membuat beliau khawatir, khawatir membuat beliau berharap, khawatir membuat beliau kecewa. Kalaupun harus kecewa, biar saya saja yang kecewa, pikir si Gadis.
Agak ragu dia mengajak diskusi si Mas, takut kalau semua rencananya terlalu mustahil. Tapi tidak, si Mas bukan orang yang mudah menyerah dan berhenti. Dialah inspirasi kenekatan si Gadis selama ini. Salah satu idola dan panutannya, yang ternyata menyetujui kegilaan si Gadis, dan setuju untuk merahasiakan ini semua dari siapapun. Mari menggila Mas!
Disusun rencana, pertama menghubungi dosen pembimbing di kampus Gadjah untuk meminta rekomendasi, mengingat dia ga akan bisa lanjut ke tahap apapun tanpa surat rekomendasi. Jadi ini menjadi syarat penting.

Alhamdulillah, dosen pembimbing bersedia menuliskan surat rekomendasi untuknya (yang entah apa isinya, sampai detik ini si Gadis tak pernah tahu). Lanjut ke paspor, mengingat seretnya birokrasi negri tercinta kalo ga ada pelicinnya. Kantor imigrasi terdekat ada di kota sebelah, harus ditempuh dengan mobil selama sejam. And you know what? Adaaaa aja kesusahan selama memproses paspor. Yang lupa bawa duitlah, lupa bawa SIM-lah, lupa bawa surat apalah. Setelah mumet bolak-balik bolak-balik, akhirnya dapet kepastian paspor akan jadi beberapa hari lagi. Yosh! Mari kita cek kesehatan! Alhamdulillah cek kesehatan masih lancar jaya, hanya si Ibuk nampak mulai curiga melihat anak Gadisnya tiba-tiba jadi pengacara, pengangguran banyak acara. Maap Cinta, ga bisa bilang sekarang…batin si Gadis.

Waktu tinggal semalam, semua berkas terkumpul kecuali surat pengantar dari dari kampus, essay, formulir, dan research proposal. Surat pengantar dari kampus akan nyampe besok pagi, begitu kata ibu petugas dari kampus via telpon. Lega. Mari menyelesaikan essay dan konco-konconya!

Diam-diam menulis malam-malam sampai pagi, akhirnya semua terselesaikan. Entah apa yang ditulis si Gadis malam itu, rayuan pulau kelapa bertabur bintang mungkin.

Yup, sudah hari selasa sodara-sodara, dan deadline adalah hari jumat. Makjang! Baru nyadar kalo surat dari kampus dan surat dari dosen belum nyampe! Hwaaaa mustahil bisa nyampe tepat waktuuuu. Setelah maksa-maksa pak pos di kantor pos kecamatan meriksain surat dari kota kembang, akhirnya dua surat sakti ada di tangan. Tapi ini sudah hari rabu kawan. Kecuali jepang pindah jadi salah satu propinsi di Indonesia, berkas-berkas aplikasi ga akan nyampe tepat waktu di sana. Tapi si Gadis sudah eneg ngeliat hasil ke-hectic-annya selama dua minggu. Tumpukan aplikasi itu harus dikirim, ga peduli sampe tepat waktu ato nggak, ga peduli diterima ato nggak. Ga mau liat lagi!

Akhirnya hari rabu, si Gadis pergi ke ibukota propinsi untuk mengirimkan surat ini ke Jepang lewat kurir secepat mungkin. Si Mas mengantarkan sampai ke terminal, karena ada hal lain yang harus dia kerjakan. Si Gadis naik bus, tak lama ada panggilan dari si Mas. Perempuan tercinta berbicara di telpon dengan nada marah dan kecewa. “Untuk urusan sebesar ini, kamu udah ga butuh restu Ibuk lagi? Ibuk mungkin ga bisa bantu apa-apa, tapi apa segitunya kamu ga mau ngelibatin Ibuk? Bahkan ngasi taupun kamu ga mau.” Begitulah ungkapan kecewa perempuan tercinta, yang hanya bisa dibalas isakan si Gadis. Sungguh Cinta, bukan karena tak menghargaimu aku tak memberi tahu. Aku hanya tak sanggup mengecewakanmu lagi untuk kesekian kalinya. Aku yang tak pernah bisa membuatmu bangga, lulus kuliah nganggur di rumah, jadi omongan banyak orang…aku tak mau membebani hatimu lagi Cinta…si Gadis berbisik dalam hatinya.

Di ibukota propinsi, si Gadis menuju satu kantor kurir. Setelah memproses untuk pengiriman dokumen, tibalah waktu pembayaran. Yak sodara-sodara, duit si Gadis kurang! Dia ga pegang kartu ATM, ga punya tabungan, berada 4 jam dari kampung kecilnya, deadline tinggal dua hari, dan dokumen ga akan terkirim kalo duitnya kurang! Robbi…si Gadis cuman bisa lemes….

Perjalanan (2)


Ternyata godaan beasiswa universitas K tak bisa dibuang begitu saja dari pikiran si Gadis. Meski tak berharap banyak, iseng dia mencari informasi lebih dari website si pemberi beasiswa. Wah, ternyata itu adalah program master yang ngasi peluang buat kerja di perusahaan jepang di mana saja. Mayan nih, kalo lolos beasiswanya, abis lulus ntar pasti dicariin kerja, pikirnya (dan pikiran ini ternyata 100% salah sodara sodara). Bener-bener menggiurkan. Tapi…lagi-lagi si Gadis galau melihat syarat-syaratnya. IPKnya super duper mefet. Bahasa jepang nol besar. Bahasa inggris payah. Prestasi ga ada. Riset? ew...makanan apa itu? Haish…nyerah sajalah…itu suara hatinya…tapi tangan kanannya ga mau manut sama atasan, menggeser kursor, klik alamat imel salah satu senior yang sedang kuliah di negri sakura. Setelah tanya ini itu tentang tips merayu profesor (untuk kasus si Gadis, lebih tepat disebut “mengkhilafkan” profesor) tangan kanannya semakin bandel. Dia mengklik alamat imel seorang profesor di universitas K yang bidangnya (disangka) sama dengan bidang tugas akhirnya (gara-gara menemukan satu kata yang sama…immunologi! well, udah kebayang lah ya kedodolan si Gadis…).

Parahnya, tangan kiri berkongsi dengan tangan kanan mengetik kata-kata mutiara penuh rayuan pulau kelapa. Otak tak berdaya, bibir cuman bisa nyengir. “Mister, penelitian anda sungguh menarik. Saya sangat tertarik. Intinya, plis khilaflah untuk menerima saya menjadi murid anda. Tenang saja, saya ga suka bikin ribut, saya ga suka bikin gara-gara, saya hanya suka bikin nasi goreng dan sambel terasi.” Semacam itulah.

Setelah panel send terklik, si gadis cuman bisa bengong. Gimana ya perasaan pak profesor nun jauh di sana ngebaca imelnya? Uh, jangan-jangan dia telah mencoreng harkat dan martabat bangsa. Argh, ga mau cek imel ah…bodobodobodobodo X(.

Dan hari-haripun berlalu seperti biasa. Matahari terbit dari timur seperti biasa, tiap pagi beli tahu putih langganan, maen-maen sama ponakan super lucu dan menggemaskan. Seminggu terlewati, ga terlalu ingat sama imel yang udah dikirim ke jepang.

Sayang, sudah hampir sebulan, kabar dari pabrik obat tak kunjung datang. Berpuluh-puluh lamaran lain telah dikirim, tetep ga ada jawaban. Nampaknya mantra Tjap Gadjah tak lagi ampuh. Wew, apa nunggu dilamar aja nih…sayang, yang ngelamarpun ga ada…ahey!

Suatu ketika iseng ke warnet cari-cari lowongan kerja, si Gadis membuka imelnya ngecek kali aja ada info lowongan kerja atau beasiswa di milis. Eng ing eng…ada sebuah imel dari Jepang sodara sodara. sudah beberapa hari yang lalu masuk ke inboxnya. Si Gadis membuka imel sambil setengah merem, dan ternyata….Allahu Akbar! Satu kekhilafan telah terjadi! Alhamdulillah, si profesor menyatakan bersedia membimbingnya ke jalan yang benar menjadi seorang master. Si Gadis bingung antara mau sujud syukur ato nangis. Lha deadline aplikasinya udah tinggal dua minggu….sementara persyaratan aplikasi lumayan banyak, mulai medical check up, fotokopi paspor, skor TOEFL, formulir beasiswa, research proposal, essay, surat pengantar resmi dari kampus Gadjah, aplikasi musti dikirim langsung ke Jepang sono... bla bla bla. Makjang….apa mungkin???

Perjalanan (1)


Gadis itu menghela nafas. Entah sudah berapa perusahaan yang menolaknya. Entah sudah berapa surat lamaran yang dikirimkannya. Tak satupun yang berhasil. Tak ada yang sampai wawancara, hanya surat lamaran saja berakhir tanpa berita.

Si gadis memang tak berambisi mendapatkan pekerjaan yang wah. Well, tentu saja takkan menolak kalo dapet kerja enak, tapi dia hanya berpikir untuk meringankan beban keluarganya. Kalopun belum bisa membantu banyak, setidaknya tak lagi memberatkan. Sudah terlalu lama dia menjadi beban. Dia bertekad untuk ‘pensiun’ jadi tukang todong begitu keluar dari Sabuga dengan memakai toga berwarna jingga yang dibeli di jalan braga (maksa!).

Melihat penolakan-penolakan itu, si gadis cuman bisa tersenyum pait sepait jamu campuran mahoni sama brotowali. Dan selanjutnya dia tergoda untuk menyalahkan diri sendiri. Salah sendiri ga serius belajar selama kuliah jadi IPK mefets. Salah sendiri ga pernah merencanakan masa depan, cuman ngejalanin semuanya seperti air, mengalir sampai jauh. Salah sendiri ga gaul, semasa kuliah cuman diisi dengan makan, tidur, dan nonton dorama hasil ngopi dari temen. Ga ngerti beraktivitas, ga pernah berorganisasi, ga ngerti apa-apa.

Beberapa minggu setelah wisuda, si gadis iseng melihat papan pengumuman di fakultasnya. Kali aja ada lowongan kerja, pikirnya. Ternyata ada lowongan kerja di sebuah perusahaan obat kecil di kota kelahirannya. Berkah! Kerja ga perlu jauh-jauh dari rumah. Ga perlu jauh-jauh dari Ibuk…(PD pasti bakal diterima karena punya mantra Cap Gajah). Dan dia pun memutuskan untuk mencoba peruntungan lagi. Kalo ditolakpun ya sudahlah…pasrah…

Setelah melihat lowongan kerja, dia berpindah ke pengumuman beasiswa. Menggiurkan, bisa sekolah ke luar negri, dikasi duit pula…sayangnya si gadis ga hobi belajar. Selama ini cuman mengandalkan SKS di tiap malam sebelum ujian. Asal lulus, udah. Bukannya ga berkeinginan sekolah di luar negeri, cuman ngeri aja ketemu sama orang-orang pinter di sono…

Sekilas dia melihat-lihat pengumuman beasiswa. Syaratnya mak…IPK diatas tiga koma sekian, essay, prestasi…walah…meleset semua dari yang dipunya…prestasi satu-satunya dalam hidup cuman juara harapan lomba bidang studi IPA se-kecamatan pas jaman SD entah kelas berapa. Tentu saja tanpa ada piala ataupun piagam.

Meski tergiur dengan duit beasiswanya, dan kemungkinan bisa keluar dari negrinya, nampaknya dia cuman akan bisa melanjutkan sekolah di luar negri jika ada tiga syarat: ada pemberi beasiswa yang khilaf , ada kampus yang khilaf, dan ada professor yang khilaf.

Tapi ada satu pengumuman yang menarik hatinya. Beasiswa dari sebuah universitas di kota kecil dekat sebuah tanjung di Jepang. Menarik karena pengumumannya cuman: hadirilah presentasi beasiswa dari universitas K hari ini jam segini di sini. Ga ada embel-embel IPK, prestasi, essay, ato apapun. Diputuskan, nyoba datengin presentasi itu, tapi tetep ngirim lamaran ke pabrik obat.

Presentasinya dihadiri lumayan banyak mahasiswa. Dengan kemampuan berbahasa inggris yang sangat pas-pasan, dia sepotong-sepotong mencoba mengumpulkan informasi. Weits, ternyata ada syarat IPK, bahkan ada syarat bahasa jepang segala…harus level intermediet. Makjang, selain arigato ga ada lagi bahasa jepang yang benar yang dia kenal…kalo semacam takasimura, sakukurata, kukirakurakura, dan konco-konconya tentu saja kenal baik.

Selesai dari presentasi, dia memtuskan untuk menunggu tiga kekhilafan terjadi. Soal beasiswa barusan, lupakan sajalah…batinnya. Sambil menunggu ketiga kehilafan terjadi, si gadis memutuskan melamar kerja ke pabrik obat di kota kelahirannya. Toh waktunya di kota kembang tinggal sedikit lagi. Sudah saatnya pulang setelah berkeliaran jauh dari rumah selama sepuluh tahun lebih.