Gadis itu menghela nafas. Entah sudah berapa perusahaan yang menolaknya. Entah sudah berapa surat lamaran yang dikirimkannya. Tak satupun yang berhasil. Tak ada yang sampai wawancara, hanya surat lamaran saja berakhir tanpa berita.
Si gadis memang tak berambisi mendapatkan pekerjaan yang wah. Well, tentu saja takkan menolak kalo dapet kerja enak, tapi dia hanya berpikir untuk meringankan beban keluarganya. Kalopun belum bisa membantu banyak, setidaknya tak lagi memberatkan. Sudah terlalu lama dia menjadi beban. Dia bertekad untuk ‘pensiun’ jadi tukang todong begitu keluar dari Sabuga dengan memakai toga berwarna jingga yang dibeli di jalan braga (maksa!).
Melihat penolakan-penolakan itu, si gadis cuman bisa tersenyum pait sepait jamu campuran mahoni sama brotowali. Dan selanjutnya dia tergoda untuk menyalahkan diri sendiri. Salah sendiri ga serius belajar selama kuliah jadi IPK mefets. Salah sendiri ga pernah merencanakan masa depan, cuman ngejalanin semuanya seperti air, mengalir sampai jauh. Salah sendiri ga gaul, semasa kuliah cuman diisi dengan makan, tidur, dan nonton dorama hasil ngopi dari temen. Ga ngerti beraktivitas, ga pernah berorganisasi, ga ngerti apa-apa.
Beberapa minggu setelah wisuda, si gadis iseng melihat papan pengumuman di fakultasnya. Kali aja ada lowongan kerja, pikirnya. Ternyata ada lowongan kerja di sebuah perusahaan obat kecil di kota kelahirannya. Berkah! Kerja ga perlu jauh-jauh dari rumah. Ga perlu jauh-jauh dari Ibuk…(PD pasti bakal diterima karena punya mantra Cap Gajah). Dan dia pun memutuskan untuk mencoba peruntungan lagi. Kalo ditolakpun ya sudahlah…pasrah…
Setelah melihat lowongan kerja, dia berpindah ke pengumuman beasiswa. Menggiurkan, bisa sekolah ke luar negri, dikasi duit pula…sayangnya si gadis ga hobi belajar. Selama ini cuman mengandalkan SKS di tiap malam sebelum ujian. Asal lulus, udah. Bukannya ga berkeinginan sekolah di luar negeri, cuman ngeri aja ketemu sama orang-orang pinter di sono…
Sekilas dia melihat-lihat pengumuman beasiswa. Syaratnya mak…IPK diatas tiga koma sekian, essay, prestasi…walah…meleset semua dari yang dipunya…prestasi satu-satunya dalam hidup cuman juara harapan lomba bidang studi IPA se-kecamatan pas jaman SD entah kelas berapa. Tentu saja tanpa ada piala ataupun piagam.
Meski tergiur dengan duit beasiswanya, dan kemungkinan bisa keluar dari negrinya, nampaknya dia cuman akan bisa melanjutkan sekolah di luar negri jika ada tiga syarat: ada pemberi beasiswa yang khilaf , ada kampus yang khilaf, dan ada professor yang khilaf.
Tapi ada satu pengumuman yang menarik hatinya. Beasiswa dari sebuah universitas di kota kecil dekat sebuah tanjung di Jepang. Menarik karena pengumumannya cuman: hadirilah presentasi beasiswa dari universitas K hari ini jam segini di sini. Ga ada embel-embel IPK, prestasi, essay, ato apapun. Diputuskan, nyoba datengin presentasi itu, tapi tetep ngirim lamaran ke pabrik obat.
Presentasinya dihadiri lumayan banyak mahasiswa. Dengan kemampuan berbahasa inggris yang sangat pas-pasan, dia sepotong-sepotong mencoba mengumpulkan informasi. Weits, ternyata ada syarat IPK, bahkan ada syarat bahasa jepang segala…harus level intermediet. Makjang, selain arigato ga ada lagi bahasa jepang yang benar yang dia kenal…kalo semacam takasimura, sakukurata, kukirakurakura, dan konco-konconya tentu saja kenal baik.
Selesai dari presentasi, dia memtuskan untuk menunggu tiga kekhilafan terjadi. Soal beasiswa barusan, lupakan sajalah…batinnya. Sambil menunggu ketiga kehilafan terjadi, si gadis memutuskan melamar kerja ke pabrik obat di kota kelahirannya. Toh waktunya di kota kembang tinggal sedikit lagi. Sudah saatnya pulang setelah berkeliaran jauh dari rumah selama sepuluh tahun lebih.
No comments:
Post a Comment