Ada bagian yang belum diceritakan dari proses seleksi beasiswa si Gadis. Ini cerita setelah si Gadis dinyatakan lolos seleksi pertama, berdasarkan aplikasi telat yang dikirimnya ke negri Sakura, sampai dia dinyatakan lolos seleksi kedua, seleksi dari universitas K--beberapa saat sebelum menerima panggilan wawancara dari mbak medok. (lihat Iseng - part 4)
Demi membaca imel yang dikirimkan pihak universitas K bahwa aplikasinya lolos seleksi, wajah si Gadis jadi berseri-seri seperti habis dilamar pangeran Brunei. Kabar bahagia dari negri Sakura itu tak sabar dikabarkannya pada keluarga.
"Alhamdulillah lolos seleksi tahap satu, Buk. Aplikasinya Alhamdulillah selamat sampe sana, ga jadi dimakan ikan Paus di jalan. Tapi masih ada dua seleksi lagi. Minggu depan berangkat ke Ibukota buat tes tulis sama wawancara. Kalo lolos ini, baru tahap akhir, seleksi beasiswa sama depdikbudnya negara J sana." Antusias si Gadis bercerita.
Tapi antusiasme ini tak bertahan lama ketika dia mengecek bahan ujian tes tulisnya minggu depan. Wajah berseri seperti habis dilamar pangeran Brunei berubah jadi ngeri seolah-olah sang pangeran Brunei tiba-tiba berubah menjadi Grandong. Alamakjang, tes tulisnya ternyata kalkulus intermediet (karena pada dasarnya program beasiswa ini untuk jurusan teknik), pelajaran antah berantah yang entah pernah dia pelajari di tingkat satu kuliah atau tidak--mengingat si Gadis nyaris selalu tidur atau menggambar di kelas kalkulus dan memfotokopi catatan temannya sehari sebelum UTS atau UAS (jelas ga guna, karena mata kuliah ini sama sekali bukan hafalan -__-").
Sebenarnya bahan ujian ini sudah tertulis di brosur beasiswa, tapi kebiasaan buruk si Gadis, tak pernah lengkap membaca informasi, dan dalam waktu kurang dari seminggu, dia harus menyiapkan semuanya. Berhubung otaknya bersih suci dari makhluk bernama kalkulus, mau tak mau dia harus mencoba mencemarinya dengan integral berlipat-lipat seperti ketupat dan konco-konconya. Dikontaklah teman se-kontrakan selama kuliah di kota kembang yang jurusan matematika. Kali aja bisa diminta ngelesin kilat, pikir si Gadis. Apes, temannya pulang kampung. Berita baiknya, dia bersedia meminjamkan buku yang akan dititipkan lewat teman.
Oke, berarti si Gadis harus ke kota kembang sebelum ke ibukota. Karena sudah tak ada waktu lagi, si Gadis memutuskan untuk pergi ke kota kembang tiga hari sebelum wawancara. Menginap semalam di sana, menumpang di kontrakan yang ditinggalinya selama kuliah di sana, lalu segera pergi ke kota T dimana kakak terdekat keduanya--sebut saja Bunga…eh Abang---tinggal, dan cukup dekat dengan Ibukota.
Menumpang kereta ekonomi, si Gadis menuju kota kembang. Perjalanan semalam suntuk di dalam kereta yang terkadang tak tersedia tempat duduk membuat badannya terasa remuk. Tapi favoritnya tetap kereta ekonomi ini, sejak dulu sekali saat masih kuliah di kota kembang. Bukan hanya soal pengiritan, tapi si Gadis merasa dia bisa lebih banyak belajar tentang hal-hal yang akan sulit dia temui di luaran sana di kereta ekonomi ini. Cerita si Gadis dan kereta ekonomi akan terlalu panjang. Kapan-kapan saja diceritakan, kalo ada kesempatan.
Kembali ke soal kalkulus, pagi hari si Gadis telah sampai di kota kembang. Segera menuju ke rumah kontrakan yang dulu telah ditempatinya selama kurang lebih tiga setengah tahun. Beberapa temannya masih tetap tinggal di situ, membuatnya serasa kembali ke masa-masa kuliah dulu.
Begitu menerima buku kalkulus lanjutan dari sang teman, dibukanya si buku dan mencoba dijejalkannya formula-formula asing di dalamnya ke dalam otaknya. Yeah, ternyata super duper susyeh sodara-sodara. Si Gadis megap-megap tiap mencoba membuka si buku. Alergi tingkat kecamatan. (tentu saja ini lebay)
Sudah tak ada waktu lagi. Si gadis hanya mengerti beberapa bagian dari semua bagian yang dia pelajari. Tapi sudah saatnya pergi ke Ibukota. Sang Profesor khilaf akan datang langsung menemuinya di Ibukota sana untuk mewawancarainya. Antara stress karena tak juga mengerti makhluk bernama kalkulus, grogi hendak menghadapi sang profesor khilaf dan harus diwawancarai dalam bahasa inggris (yang hanya dipelajarinya di bangku sekolah dulu dan tentu saja nyaris tak pernah dipakai), dan ke-buta-peta-ibukota-annya yang tak tahu mana barat mana timur ibukota, si Gadis memutuskan untuk bermain-main saja bersama keponakan-keponakannya selama tinggal di rumah si Abang. Sudah ga berselera lagi menjejalkan rumus atau apapun. Banyak-banyak berdoa saja. Usahanya sudah maksimal, maksimal versi si Gadis.
Imel dari profesor khilaf datang sehari sebelum wawancara, mengabarkan waktu dan tempat wawancara, serta baju yang akan beliau kenakan supaya mudah dikenali. Wawancara dilakukan pukul 9 pagi di lobi hotel tempat si profesor menginap, dan di imel tertulis “find me wearing Boston Red Socks T-shirt”. Mungkin saking stress dan groginya, yang terbayang di otak si Gadis, si profesor akan mengenakan kaus kaki berwarna merah bermerk Boston. Si Gadispun membatin, kenapa make dress code kok yang susah dikenali. Masak iya dia nanti musti ngeliatin satu-satu kaus kaki orang. Kalo pake celana panjang gimana cara taunya kalo kaus kakinya berwarna merah bermerk Boston? Sampai menjelang pergi ke hotel keesokan harinya, si Gadis masih tetap tak mengerti cara ber-dress code orang-orang pinter macam profesor. Bikin susah orang saja, gerutunya.
Dia berangkat lebih pagi, dengan diantar si Abang, karena si Abang khawatir si Gadis hilang di tengah jalan. Kekhawatiran si Abang cukup beralasan mengingat dia pernah tersesat di belantara ibukota saat sendirian mengunjugi si Abang, sampai jam 11 malam baru ditemukan.
Dilangkahkan kakinya ringan ke hotel yang ditunjukkan profesor lewat imelnya. Begitu memasuki halaman hotel bintang lima itu. Terpaku dilihatnya orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Semuanya keren, berjas dan berdasi, bersepatu tinggi, rapi. Dilihatnya pantulan dirinya di kaca bagian depan hotel. Muka tanpa bedak dan berkeringat, bersandal buluk, ber-tas dekil, dan ber-rok yang bagian bawahnya sudah dedel duwel (apa ya bahasa indonesianya? Carut marut? Kocar kacir? Sobek-sobek? Ah, itulah…). Kontras sekali dengan pemandangan sekitarnya. Ah, cuek saja…yang penting dia merasa nyaman.
No comments:
Post a Comment