Si Gadis mengedarkan pandangan ke dalam warung. Hanya ada ibu-ibu penjualnya. Warung sepi. DIlihatnya masakan yang tersusun rapi di etalase gerobak. Rendang, rendang, rendang, rendang, dan daun singkong (well, nama masakan padang yang dia kenal memang cuman rendang).
"Bapak mau makan apa?" si Gadis bertanya pada si profesor yang masih nampak takjub melihat tempat makan ini.
"Terserah kamu saja," tersenyum si profesor masuk ke dalam warung.
"Buk, rendangnya dua ya (seriusan si Gadis emang cuman tau nama rendang doang, makanya dia pesen itu) sama es teh manis dua ya." Si Gadis menyusul masuk ke dalam warung.
Mulailah mereka berbincang dengan lebih rileks. Mulai soal krisi ekonomi, susahnya mencari pekerjaan, cita-cita si Gadis, sampai pulau Bali. Si Gadis benar-benar menemukan sosok seorang Bapak di dalam diri profesor Ganteng.
"Kamu ga pengen jadi dosen?" tanya sang profesor.
"Pengen sih Pak. Tapi susah, kan saya belum ambil program profesi."
"Susah ya jadi dosen di sini?"
"Iya Pak. Dan penghargaan secara materi kepada orang berilmu di negri saya ini ga setinggi pernghargaan kepada artis ato anggota dewan yang merasa terhormat Pak. Sangat kecil."
"Oya? Trus kenapa kamu pengen jadi dosen?"
"Biar ilmu saya guna Pak. jadi hidup saya selama di dunia berguna juga." Sambil menyuap nasi Padang bermenu rendang, rebusan daun singkong, dan sambel ijo super pedes dan super banyak, mereka berbincncang ringan. (Iya, saya tau apa yang kalian pikirkan. Udah gila emang si Gadis, ngasi turis negara J yang memegang kunci beasiswanya makanan pedes di gang becek plus es teh yang esnya kemungkinan dibikin dari air kali. Tapi percayalah, nanti...sebentar lagi...si Gadis akan sadar ketotolannya seharian ini).
"Pak tau ga, kalo banyak orang ngira Bali itu nama negara dan Indonesia itu nama pulau di Bali loh," si profesor tergelak sambil tak henti mengusap kening dan mukanya yang basah keringat. Ya iyalah, gimana ga banjir keringat. Tangah hari di belantara ibukota yang super hot hot pop dikasi makan rendang plus sambel ijo super pedes. Dia orang negara J, bukan negara B atau I yang terkenal dengan cabe pedesnya.
Tapi dua jam berbincang di warung Padang benar-benar terasa menyenangkan. Waktu berlalu tanpa terasa. Si profesor tandas menghabiskan nasi padang yang porsinya lumayan kuli dan es tehnya, sementara si Gadis hanya mampu menghabiskan setengahnya. Warung mulai ramai dnegan para buruh yang menatap heran ke arah mereka berdua. Ini ada orang ngomong pake bahasa inggris kok makan di warung, begitu mungkin pikirnya.
Akhirnya tiba saatnya si Gadis harus pulang. Berpamitan, si profesor memaksakan mengantarnya sampai halte busway terdekat, sampai de depan bis, meski harus membayar karcis masuk. sepanjang perjalanan menuju halte, profesor banyak bertanya tentang beberapa pengamen, anak jalanan, dan gelandangan yang mereka lihat di sepanjang jalan. Si Gadis tak berusaha menutupi apapun, dia jawab semua apa adanya. "Inilah tugas kami, Pak. PR buat bangsa kami masih sangat banyak," si Gadis tersenyum pahit.
Si Bapak mengantarkan sampai si Gadis benar-benar masuk ke dalam bus. Melambaikan tangan dengan senyuman yang tak juga hilang, merekapun akhirnya berpisah...
***
Sesampai di rumah Abang, kewarasan si Gadis akhirnya kembali. Ow Em Ji, apa yang udah dia lakukan seharian ini??? Ngajak makan di warung? Gimana kalo si profesor tiba-tiba kena tipes? Ato infeksi yang lebih parah lagi? Trus masuk rumah sakit?
Sudah hilang pikirannya tentang beasiswa. Udahlah, ini mah ga akan ketrima juga. Ngejawab soal ga bisa, malah ngeracunin profesornya. Yakin 99,9999% ga bakal ketrima. Dan si Gadispun tak berharap banyak. Tapi masih ada yang mengganggu pikirannya. Kabar si profesor pasca makan di warung bersamanya! Gimana kalo tiba-tiba masuk rumah sakit? Gimana kalo tiba-tiba dia ditangkap polisi gara-gara bikin sakit turis?
Khawatir, si Gadis segera menuju warnet, mengirim imel kepada si profesor, dan menanyakan kabar sekaligus meminta maaf telah memberinya makanan terpedas dalam hidup si profesor. Semalaman si Gadis komat-kamit berdoa semoga profesor baik-baik saja, semoga sistem pencernaan profesor sekuat baja, semoga ga terjadi apa-apa. Ga ketrima beasiswa gapapa, yang penting profesor ga kenapa-napa, doa si Gadis.
Syukurlah, keesokan harinya imel balasan dari profesor mampir ke inboxnya. Mengabarkan bahwa beliau sehat-sehat saja, kemarin sangat menyenangkan, makanan yang enak, perbincangan yang mengasyikkan, dan beliau baru saja pulang dari satu mall besar di ibukota membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negaranya. Alhamdulillah....si Gadispun merasa lega.
Segera ditelpon Ibuknya, mengabarkan soal wawancara dan kemungkinan besar ia takkan lolos seleksi universitas, dan akan segera pulang ke kampung halamannya. Tapi ternyata, kekhilafan profesor seperti infeksi, menular juga ke universitas K, yang dengan khilafnya mengabarkan bahwa dia lolos seleksi tahap kedua dan akan masuk proses seleksi terakhir untuk memperoleh beasiswa dari depdikbud negri sakura....
No comments:
Post a Comment