Pandangan penuh selidik pak satpam di depan dan bapak-bapak tukang ngebukain pintu mobil cukup membuatnya was-was. Gimana kalo dia disangka mo ngutil. Eh, tapi mo ngutil apaan di hotel juga. Si Gadis melangkahkan kaki menghampiri meja resepsionis, meminta mbak-mbak cantik di balik meja menghubungi profesor. Sambil menenangkan hati, duduklah ia menunggu sang profesor di salah satu sofa di lobi. Agak-agak melirik kaki orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Siapa tahu ada yang berkaus kaki merah bermerk Boston.
Tak lama datanglah seorang laki-laki paruh baya bertubuh tinggi tegap berkaos merah bercelana jeans menghampirinya, dengan muka berseri dan senyum yang nyaris tak lepas dari wajahnya. Kesan pertama si Gadis saat beliau, mengingatkan dengan almarhum Bapaknya. Entah kemiripan mereka di sebelah mananya. Tapi si Gadis merasakan dadanya bergetar seperti melihat lagi Bapaknya.
Bergegas si Gadis berdiri menyambut beliau. Sudah lupa pada rencananya mengecek kaus kaki sang profesor, si Gadis terpana melihat laki-laki di depannya, mirip sekali sama Bapak...entah dimananya.... "Hai, kenalkan saya profesor Ganteng. Apa kabar?" sang profesor menyapa.
"Eh, iya...saya Gadis Bergusi, nama panggilan saya sebenarnya Usi...ng...kalau di bahasa negara Anda, Usi itu artinya Sapi. Jadi nama panggilan saya Sapi," si Gadis memperkenalkan diri dengan cara memalukan yang pasti takkan dilupakan profesor Ganteng seumur hidupnya. Sepertinya si Gadis sudah saatnya memikirkan untuk mengambil kelas di sekolah kepribadian -_-"
"Hahaha...begitu ya? Jadi saya panggil kamu Sapi gapapa?" profesor Ganteng tergelak. Si Gadis nyengir. Merekapun segera mencari tempat duduk di restoran hotel. Setelah sedikir berbasa-basi, profesor menyodorkan soal kalkulus.
Dengan tangan gemetar dan muka pucat pasi si gadis menerima kertas soal dan jawaban. Soalnya cuman ada tiga. Tapi tak satupun yang Gadis mengerti. Jangankan ngerti jawabannya, pertanyaannya aja si Gadis ga ngerti. Tapi tanggung, sayang kalo kertas jawaban dibiarkan bersih tanpa coretan. Berapa pohon yang ditebang demi membuat kertas ini coba? Pokoknya harus ada coretan! Si Gadis mencoret-coret kertas jawabannya sepenuh mungkin. Tiga soal pendek dan tiga halaman kertas jawaban terisi penuh coretan. Satu jam yang melelahkan.
Profesor Ganteng menanyainya tentang soal barusan. "Susah, Pak. Saya alergi sama itung-itungan," jujur si Gadis menjawab. "Haha, gapapa...anak jurusan obat macam kamu gapapa ga bisa ngelipat integral. Yang penting bisa ngelipat brotowali buat dijadiin obat," hibur beliau. Si Gadis sedikit terhibur.
"Oke, sekarang kita mulai wawancaranya ya?" si Gadis mengangguk. "Pertanyaan pertama, kenapa kamu mutusin buat ikut program beasiswa ini?"
"Karena jaman sekarang susah nyari kerja, Pak. Saya aja ngelamar kerja ga dapet-dapet. Kalo ikut beasiswa ini ada peluang mencari kerja di negara Anda. Itu kesempatan emas kalo saya pikir." Si Profesor mengangguk-angguk.
"Trus kenapa di lab saya?"
"Karena lab Anda peralatannya lengkap, Pak."--ini jawaban spontan sodara-sodara, karena si Gadis tak mempersiapkan apapun untuk wawancara ini.
"Lengkap? Misalnya? Darimana kamu tahu?" dari profesor berkerut.
"Di website, Pak. Banyak mikroskopnya. Ga kayak lab saya pas kuliah dulu. Musti ngantri kalo mau pake mikroskop."--sumpah ini jawaban polos bin oon binti dudul yang spontan terceplos dari mulut si Gadis.
Wawancara selanjutnya lebih seperti percakapan biasa. Tentang perbedaan budaya, kemampuan adaptasi si Gadis, kuliah semasa S1nya, dan hal-hal standar lainnya.
Tepat pukul 12 siang, wawancara berakhir. Si Gadis bersiap hendak pamitan ketika profesor Ganteng mengajaknya makan siang. Wihiw, rejeki nih ditraktir makan siang, sorak hati si Gadis.
"Saya pengen makan masakan asli negara ini. Tolong tunjukin saya dimana kita bisa makan siang bersama," pinta si Profesor.
"Ke restoran hotel aja Pak. Pasti ada masakan negara saya," saran si Gadis, sambil mengajak profesor menuju buffet hotel.
"Nggak ah, saya maunya makan di luar hotel," Profesor menolak.
Haduh, Pak! Kalo saya hapal tiap jalan tikus di ibukota ini, kalo saya orang dengan navigasi yang beres, kalo saya pernah tinggal di ibukota ini, tentu saja saya pasti akan mengajak anda ke rumah makan masakan asli negara saya yang terenak di sini. Mangsalahnya saya buta sama sekali sama ibukota ini, Bapaaaakkk. Sendirian aja tersesat. Gimana kalo saya ajak Bapak muter-muter tapi malah ilang? Trus besoknya saya masuk koran dengan headline 'Seorang Sapi menyesatkan Profesor Ganteng dari Negeri Sakura' trus ditangkap polisi? Ibukota ini kejam Bapakkkk....lebih kejam dari Ibu jariiii...gemas si Gadis berteriak dalam hati.
Berhubung ini hari jum'at, si Abang pasti sedang sholat jum'at. Tak tahu kepada siapa dia harus bertanya. Tapi tak kuasa menolak, berusaha menjadi tuan rumah yang baik, si Gadis mengajak profesor keluar dari hotel (what? keluar dari hotel? ada yang salah nih...)
Pikiran pertama si Gadis adalah, rumah makan terdekat yang cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Kenapa? Tentu saja biar ga ilang! Tapi dia benar-benar buta daerah sini. Aha! Dilihat sesosok berbaju putih bercelana biru tua di depan hotel. Pak Satpam! Ayo tanya beliau, siapa tau beliau punya rekomendasi tempat makan yang enak (well, kesederhanaan si Gadis mencakup cara berpikirnya juga. Dari pada nanya resepsionis dan malah ditunjukkan restoran di ujung dunia, mending nanya satpam dimana dia biasa makan siang, jadi cukup jalan dan ga bakal ilang).
"Maap Pak, tempat makan terdekat di sekitar sini dimana ya?"
"Tempat makan? Warung maksutnya?" pak Satpam nampak ragu menjawab, sambil melihat ke arah turis sipit di sebelah si Gadis. Masak iya si mbak ini mo ngajak turis makan di warung, begitu mungkin pikirnya.
"Iya, warung ato depot ato rumah makan. Yang deket aja, yang cukup jalan kaki bisa nyampe." si Gadis meyakinkan pak Satpam.
"Ada sih Neng, deket sini. Keluar hotel, nyebrang, trus ada gang kecil, nah di pinggir gang itu ada warung nasi Padang Neng. Biasa tempat makan buruh-buruh gitu sih. Gangnya agak-agak becek gitu deh..."
"Makasih banyak, Pak," tersenyum ditinggalkannya si pak Satpam yang bengong melihatnya mengajak si turis ke arah yang baru saja ditunjukkan.
Ibukota yang panas dengan jalanan yang padat. Tanpa ragu si Gadis mengajak profesor menyeberang jalan ramai tanpa lampu lalu lintas. "Sini Pak, ikutin di belakang saya ya. Butuh ketrampilan tertentu (well, sebut saja "kesaktian") buat nyebrang di Ibukota ini Pak," si Gadis cuek mengajak profesor menyeberang jalan.
Tak lama, sampailah mereka di gang yang dituju. Benar ternyata, ada warung nasi padang di situ. Bukan rumah makan loh ya. Warung. We A Er U En Ge. Hanya gerobak kecil dengan makanan seadanya plus tenda di sebelahnya. Dan benar kata si pak Satpam, jalanan di depan warung memang becek....
Apakah si Gadis serius ngajak makan pak profesor Ganteng di situ? Tunggu sambungannya ya...
No comments:
Post a Comment