Ternyata godaan beasiswa universitas K tak bisa dibuang begitu saja dari pikiran si Gadis. Meski tak berharap banyak, iseng dia mencari informasi lebih dari website si pemberi beasiswa. Wah, ternyata itu adalah program master yang ngasi peluang buat kerja di perusahaan jepang di mana saja. Mayan nih, kalo lolos beasiswanya, abis lulus ntar pasti dicariin kerja, pikirnya (dan pikiran ini ternyata 100% salah sodara sodara). Bener-bener menggiurkan. Tapi…lagi-lagi si Gadis galau melihat syarat-syaratnya. IPKnya super duper mefet. Bahasa jepang nol besar. Bahasa inggris payah. Prestasi ga ada. Riset? ew...makanan apa itu? Haish…nyerah sajalah…itu suara hatinya…tapi tangan kanannya ga mau manut sama atasan, menggeser kursor, klik alamat imel salah satu senior yang sedang kuliah di negri sakura. Setelah tanya ini itu tentang tips merayu profesor (untuk kasus si Gadis, lebih tepat disebut “mengkhilafkan” profesor) tangan kanannya semakin bandel. Dia mengklik alamat imel seorang profesor di universitas K yang bidangnya (disangka) sama dengan bidang tugas akhirnya (gara-gara menemukan satu kata yang sama…immunologi! well, udah kebayang lah ya kedodolan si Gadis…).
Parahnya, tangan kiri berkongsi dengan tangan kanan mengetik kata-kata mutiara penuh rayuan pulau kelapa. Otak tak berdaya, bibir cuman bisa nyengir. “Mister, penelitian anda sungguh menarik. Saya sangat tertarik. Intinya, plis khilaflah untuk menerima saya menjadi murid anda. Tenang saja, saya ga suka bikin ribut, saya ga suka bikin gara-gara, saya hanya suka bikin nasi goreng dan sambel terasi.” Semacam itulah.
Setelah panel send terklik, si gadis cuman bisa bengong. Gimana ya perasaan pak profesor nun jauh di sana ngebaca imelnya? Uh, jangan-jangan dia telah mencoreng harkat dan martabat bangsa. Argh, ga mau cek imel ah…bodobodobodobodo X(.
Dan hari-haripun berlalu seperti biasa. Matahari terbit dari timur seperti biasa, tiap pagi beli tahu putih langganan, maen-maen sama ponakan super lucu dan menggemaskan. Seminggu terlewati, ga terlalu ingat sama imel yang udah dikirim ke jepang.
Sayang, sudah hampir sebulan, kabar dari pabrik obat tak kunjung datang. Berpuluh-puluh lamaran lain telah dikirim, tetep ga ada jawaban. Nampaknya mantra Tjap Gadjah tak lagi ampuh. Wew, apa nunggu dilamar aja nih…sayang, yang ngelamarpun ga ada…ahey!
Suatu ketika iseng ke warnet cari-cari lowongan kerja, si Gadis membuka imelnya ngecek kali aja ada info lowongan kerja atau beasiswa di milis. Eng ing eng…ada sebuah imel dari Jepang sodara sodara. sudah beberapa hari yang lalu masuk ke inboxnya. Si Gadis membuka imel sambil setengah merem, dan ternyata….Allahu Akbar! Satu kekhilafan telah terjadi! Alhamdulillah, si profesor menyatakan bersedia membimbingnya ke jalan yang benar menjadi seorang master. Si Gadis bingung antara mau sujud syukur ato nangis. Lha deadline aplikasinya udah tinggal dua minggu….sementara persyaratan aplikasi lumayan banyak, mulai medical check up, fotokopi paspor, skor TOEFL, formulir beasiswa, research proposal, essay, surat pengantar resmi dari kampus Gadjah, aplikasi musti dikirim langsung ke Jepang sono... bla bla bla. Makjang….apa mungkin???
No comments:
Post a Comment