Bikin paspor, medical check up, bikin research proposal, ambil tes TOEFL, nulis essay, ngisi formulir beasiswa dalam dua minggu adalah gila. Dan si Gadis memang gila. Lebih gila lagi mengingat seluruh aplikasi musti dikirim ke Jepang nan jauh dimato. Pake kurir internasionalpun butuh waktu tak kurang dari tiga hari. Setelah dihitung-hitung, dia punya waktu menyelesaikan kegilaannya hanya dalam sepuluh hari. Tak boleh lebih. Oh ya! Dia harus juga mendapatkan rekomendasi dari dosen atau dekan. God! Kota Kembang itu tak dekat, yang bisa dijangkau hanya dengan ngesot. Lebih lagi, tak mudah mendapatkan rekomendasi, apalagi untuk mahasiswa tukang bolos dan tukang tidur macam si Gadis ini….ada dosen kenal dia aja udah syukur...
Tapi si Gadis sudah memutuskan. Ada profesor yang khilaf di negri jauh sana bersedia membimbingnya, kalo dia berhenti sampai di sini saja, mau ditaruh dimana harkat dan martabat bangsa ini?? (lebay!). Coba saja dulu. Kalo belum mencoba, kita tak akan tahu. Semua yang nampak mustahil kebanyakan karena ketakutan dan kekhawatiran yang kita buat sendiri. Kenyataan sering meleset dari prediksi. Mari kita nekat. Kalopun harus gagal, gagal-lah dengan terhormat. Gagal-lah tanpa penyesalan.
Dan, si Gadis mulai merancang strategi. Diputuskan untuk tak memberitahu siapapun soal ini kecuali ke si Mas, kakak terdekatnya. Bahkan, terpaksa tak memberitahu Ibuk, khawatir membuat beliau khawatir, khawatir membuat beliau berharap, khawatir membuat beliau kecewa. Kalaupun harus kecewa, biar saya saja yang kecewa, pikir si Gadis.
Agak ragu dia mengajak diskusi si Mas, takut kalau semua rencananya terlalu mustahil. Tapi tidak, si Mas bukan orang yang mudah menyerah dan berhenti. Dialah inspirasi kenekatan si Gadis selama ini. Salah satu idola dan panutannya, yang ternyata menyetujui kegilaan si Gadis, dan setuju untuk merahasiakan ini semua dari siapapun. Mari menggila Mas!
Disusun rencana, pertama menghubungi dosen pembimbing di kampus Gadjah untuk meminta rekomendasi, mengingat dia ga akan bisa lanjut ke tahap apapun tanpa surat rekomendasi. Jadi ini menjadi syarat penting.
Alhamdulillah, dosen pembimbing bersedia menuliskan surat rekomendasi untuknya (yang entah apa isinya, sampai detik ini si Gadis tak pernah tahu). Lanjut ke paspor, mengingat seretnya birokrasi negri tercinta kalo ga ada pelicinnya. Kantor imigrasi terdekat ada di kota sebelah, harus ditempuh dengan mobil selama sejam. And you know what? Adaaaa aja kesusahan selama memproses paspor. Yang lupa bawa duitlah, lupa bawa SIM-lah, lupa bawa surat apalah. Setelah mumet bolak-balik bolak-balik, akhirnya dapet kepastian paspor akan jadi beberapa hari lagi. Yosh! Mari kita cek kesehatan! Alhamdulillah cek kesehatan masih lancar jaya, hanya si Ibuk nampak mulai curiga melihat anak Gadisnya tiba-tiba jadi pengacara, pengangguran banyak acara. Maap Cinta, ga bisa bilang sekarang…batin si Gadis.
Waktu tinggal semalam, semua berkas terkumpul kecuali surat pengantar dari dari kampus, essay, formulir, dan research proposal. Surat pengantar dari kampus akan nyampe besok pagi, begitu kata ibu petugas dari kampus via telpon. Lega. Mari menyelesaikan essay dan konco-konconya!
Diam-diam menulis malam-malam sampai pagi, akhirnya semua terselesaikan. Entah apa yang ditulis si Gadis malam itu, rayuan pulau kelapa bertabur bintang mungkin.
Yup, sudah hari selasa sodara-sodara, dan deadline adalah hari jumat. Makjang! Baru nyadar kalo surat dari kampus dan surat dari dosen belum nyampe! Hwaaaa mustahil bisa nyampe tepat waktuuuu. Setelah maksa-maksa pak pos di kantor pos kecamatan meriksain surat dari kota kembang, akhirnya dua surat sakti ada di tangan. Tapi ini sudah hari rabu kawan. Kecuali jepang pindah jadi salah satu propinsi di Indonesia, berkas-berkas aplikasi ga akan nyampe tepat waktu di sana. Tapi si Gadis sudah eneg ngeliat hasil ke-hectic-annya selama dua minggu. Tumpukan aplikasi itu harus dikirim, ga peduli sampe tepat waktu ato nggak, ga peduli diterima ato nggak. Ga mau liat lagi!
Akhirnya hari rabu, si Gadis pergi ke ibukota propinsi untuk mengirimkan surat ini ke Jepang lewat kurir secepat mungkin. Si Mas mengantarkan sampai ke terminal, karena ada hal lain yang harus dia kerjakan. Si Gadis naik bus, tak lama ada panggilan dari si Mas. Perempuan tercinta berbicara di telpon dengan nada marah dan kecewa. “Untuk urusan sebesar ini, kamu udah ga butuh restu Ibuk lagi? Ibuk mungkin ga bisa bantu apa-apa, tapi apa segitunya kamu ga mau ngelibatin Ibuk? Bahkan ngasi taupun kamu ga mau.” Begitulah ungkapan kecewa perempuan tercinta, yang hanya bisa dibalas isakan si Gadis. Sungguh Cinta, bukan karena tak menghargaimu aku tak memberi tahu. Aku hanya tak sanggup mengecewakanmu lagi untuk kesekian kalinya. Aku yang tak pernah bisa membuatmu bangga, lulus kuliah nganggur di rumah, jadi omongan banyak orang…aku tak mau membebani hatimu lagi Cinta…si Gadis berbisik dalam hatinya.
Di ibukota propinsi, si Gadis menuju satu kantor kurir. Setelah memproses untuk pengiriman dokumen, tibalah waktu pembayaran. Yak sodara-sodara, duit si Gadis kurang! Dia ga pegang kartu ATM, ga punya tabungan, berada 4 jam dari kampung kecilnya, deadline tinggal dua hari, dan dokumen ga akan terkirim kalo duitnya kurang! Robbi…si Gadis cuman bisa lemes….
No comments:
Post a Comment