Mendengar suara medok mbak-mbak di seberang sana, si Gadis hanya bisa menghela nafas. Bukan jadi sesak napas gara-gara mendengar kemedokan suara beliau, tapi karena apa yang beliau ucapkan.
“Dhitunggu hari senen bhuwat wawanchara yha mmbbak. Dhi kantor kami, tepat jham semmbbilan paghi. Sekiyan, trima kasih.” Si mbak medok menutup teleponnya, meninggalkan si Gadis dalam dilema.
Kalo kerjaan ini diambil, dia bisa tetep berada di dekat ibuknya, sesuai keinginannya selama ini. Sang perempuan tercinta mulai menurun kesehatannya, dan vonis gagal jantung beliau selalu mencemaskannya. Kalo dia memutuskan untuk bekerja di pabrik obat ini, sedikit dia bisa meringankan beban keluarganya. Paling tidak tak lagi menjadi beban keluarga. Hal yang selama ini juga diinginkannya. Kalo dia benar-benar yakin untuk bekerja di pabrik obat ini nantinya, semuanya akan nampak sederhana. Tak rumit. Bekerja di dekat-dekat sini saja, hidup sederhana, tapi bahagia.
Si gadis menggingit-gigit kukunya. Kalau pekerjaan ini diambil, bagaimana dengan nasib rencana kuliahnya ke negeri Sailormoon? Memang masih dalam proses seleksi. Dan kemungkinan diterimapun tak begitu besar. Tapi gimana kalo nanti dia diterima? Bukankah dzalim pada si pabrik obat kalo di tengah jalan dia berhenti bekerja dan kabur mengejar mimpinya foto bersama dan mendapatkan tanda tangan Nobita? Akan sangat tak adil buat si pabrik obat nantinya. Tak pantas rasanya si Gadis memaksakan egonya mencari jalan aman seperti ini. Mungkin dia harus menolak panggilan wawancara ini. Sejenak dia memandangi telepon genggamnya, ragu hendak menelpon si mbak medok di pabrik obat sana.
Tapi hatinya kembali berdebat. Apa iya harus dia tolak panggilan wawancara ini? Gimana kalo ternyata dia gagal dalam proses seleksi beasiswa nantinya. Apa iya dia takkan menyesal semenyesal-menyesalnya? Pekerjaan tak didapat, begitupun dengan beasiswa. Lalu mau jadi apa dia? Anak rumah tangga? Mana ada status jadi anak rumah tangga…
Ini panggilan wawancara pertamanya setelah berpuluh surat lamaran tak ada kabarnya. Jujur, si Gadis mulai down dan merasa sangat minder dengan dirinya, merasa sangat bodoh dan tak berguna. Panggilan wawancara ini sedikit banyak membesarkan hatinya. Berpikir lama, meminta petunjuk Tuhannya, si Gadis tersenyum mantap juga akhirnya. Oke, keputusan sudah diambil. Bismillah, saya akan menepati untuk datang wawancara. Semoga ini pilihan yang takkan disesalinya.
***
Hari senin pagi, si Gadis telah siap berbaju rapi (well, rapi versi si Gadis belum tentu disepakati sebagai rapi secara umum :p). Si Mas bersiap-siap mengantarkannya. Takzim dia cium punggung tangan keriput perempuan yang paling dicintainya, mencium pipi kiri-kanan dan keningnya sambil tak lupa meminta doa. Mantap membulatkan tekad, dia telah memutuskan masa depannya.
Pabrik obat itu kecil, tak sebesar pabrik obat yang pernah dia lihat di kota Kembang dulu. Berada di tengah sawah, angin segar tak henti bertiup semilir. Halamannya tak begitu luas, dengan kebun anggrek yang luas di samping pos satpam, membuatnya bertanya-tanya…ini pabrik obat apa pabrik bunga ya?
Pak satpam memintanya mengikutinya menuju lobi kantor, yang lumayan luas dengan hiasan lukisan besar dan beberapa pajangan. Anehnya, ga ada pajangan produknya. Yakin, ga akan ada yang menyangka kalo ini pabrik obat. Orang paling akan menyangka ini kantor biasa. Si Gadis lagi-lagi membatin.
“Mmbbak Ghadhis yha? Monggo silahkan isi bhuku tamu ini,” ramah suara yang dikenalnya menyapa dari balik meja resepsionis. Ah, ini pasti mbak medok yang minggu lalu menelponnya. Sambil tersenyum menyapa mbak medok, ditulisnya nama, tanda tangan dan keperluannya.
“Dhitunggu dhisitu dhulu yha mmbbak, nanti dhipanggil kalo sudhah waktunya…” mbak medok menunjukkan sofa di tengah ruangan. Ternyata ada juga beberapa pelamar lain selain dirinya, batin si Gadis melihat beberapa mbak-mbak dan mas-mas juga duduk berjejer di sana.
Menyamankan diri, si Gadis duduk menyender ke sofa, menunggu saat namanya dipanggil untuk giliran wawancara. Saat matanya mulai terasa berat, akhirnya dipanggil juga ia ke ruangan wawancara.
Ruangan itu luas dengan banyak kursi berjajar seperti ruang rapat. Sesosok perempuan manis telah duduk di sana.
“Mbak gadhis yha? Silahkan dhudhuk, dhan tolong kerjhakan soal-soal ini. Waktu tesnya dhua jham dari sekarang.” Tanpa basa-basi si mbak manis yang kemudian dia ketahui sebagai jeneral menejer pabrik obat itu menyodorkan setumpuk kertas ke si Gadis. Si gadis hanya bisa terpana. What??? Tes??? Tes apa woi?! Katanya wawancara??? Ini gimana sih??? Bilang kek pas di telpon kalo ada tes segala. Well, ini teriakan hati si Gadis aja…mukanya emang langsut pucat tapi tangannya yang udah biasa membantah perintah atasan cekatan mengambil tumpukan kertas itu sambil kepalanya mengangguk berucap “iya, Bu.” Pengen muring-muring rasanya ke si mbak medok. Awas ya mbak, kalo ketemu tak gigit sampeyan nanti.
Grooookkkkk. Apa-apaan ini??? Mata si gadis terbelalak, membaca tulisan demi tulisan di atas kertas itu. Ini malah lebih susah dari pertanyaan-pertanyaan sidang di kampus Gadjah duluuu. Pertanyaan-pertanyaan yang mirip kumpulan soal UAS semua mata kuliah dari tingkat satu sampai tingkat empat (cem dia inget aja mata kuliah dari tingkat satu sampai tingkat empat :p) plus tes bahasa inggris, matematika, dan tes psikologi. Semua dalam dua jam. Padahal otaknya sudah terlajur bersih seperti abis dicuci pake Baycline, begitu menerima ijazah di Sabuga.
Ini pabrik mau nyari pegawai apa nyari kandidat penerima nobel yak? Makjang, pabrik obat sekecil ini tesnya aja udah kaya gini. Gimana pabrik obat kelas dunia yak? Si Gadis menggumam sambil dalam hati pengen mengunyah kertas-kertas itu.
Lagi-lagi, setengah hati setengah lupa setengah ngawur setengah ngantuk dikerjakannya soal-soal itu. Sebagian kecil (keciiiiiiil banget) dikerjakan sambil berpikir keras, sisanya (sebagian besaaaaaar banget) dikerjakan sambil setengah mengantuk.
Setelah mabok dengan kertas-kertas tes selama dua jam, ternyata Sipakbos direktur langsung akan mewawancarainya. Si Gadis sudah kehilangan selera bertarung buat wawancara gara-gara tes dadakan yang ga berperikeotakan tadi. Tanpa rasa deg-degan sama sekali, dia menghadap Sipakbos yang ternyata masi muda berkacamata dan berkemeja. Basa-basi Sipakbos menanyai nama, alamat, nomor telpon, hobi, cita-cita, nomor sepatu (eits, yang dari nomor telpon tadi boongan doang…heheu). Bertanya latar belakang pendidikannya, tema tugas akhirnya, dan motivasinya melamar kerja di perusahaannya. Standar wawancara kerjalah (cem udah berpengalaman wawancara kerja aja….baru pertama kalinya padahal).
Lancar dia jawab semua pertanyaan beliau tanpa menunjukkan muka agresif banget pengen kerja di pabrik obat itu. Bukan apa-apa sih, cuman masi mabok aja sama tes barusan, dan masi kesel aja sama si mbak medok.
“Oke, sekian saja wawancaranya. Mohon tunggu hasilnya dalam minggu ini, kami akan menghubungi mbak bila dinyatakan diterima di perusahaan kami,” Sipakbos menutup map di depannya dan bersiap meninggalkan ruangan. Tiba-tiba si Gadis teringat sesuatu.
“Ng...nganu Pakbhos, sebhenarnya adha yang ingin saya sampeykan," gugup si Gadis ketularan medoknya si mbak medok, tapi dia memberanikan diri menatap langsung mata si Pakbos.
“Oh ya? Ada apa?” si Pakbos mengurungkan niatnya berdiri meninggalkan kursinya.
No comments:
Post a Comment