Si Gadis tertunduk lesu. Dipandangnya amplop besar di tangannya.
Sudah banyak yang direpotkan demi kertas-kertas di dalam amplop itu. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan, kesulitan-kesulitan yang berhasil dilewati, malam-malam tanpa tidur yang nyenyak, jantung yang selalu berdegup kencang berlomba dengan waktu. Ada profesor khilaf yang sedang menunggu keseriusannya. Diatas semua itu, ada Ibuk yang telah dikecewakannya. Ah...andai keridhoan Ibuk dia dapat dari awal, mungkin takkan sebanyak ini rintangannya.
Tidak! Ini sudah dekat dengan garis finish! Ga boleh mundur apapun yang terjadi! Ga mau pulang dengan masi bawa amplop ini. Bagaimanapun juga amplop ini harus terkirim. Akan bernasip seperti apa, itu urusan nanti. Si Gadis menegakkan kepalanya.
"Mbak, tunggu bentar ya...saya segera kembali," Bergegas si Gadis menghubungi si Mas meminta pendapat. Lama mereka berdiskusi dan menimbang. Jelas tak mungkin kembali pulang hanya untuk mengambil uang. Tak mungkin pula kakaknya menyusul dengan membawa uang. Jarak yang teramat jauh akan membuat uang sampai di tangannya saat kantor kurir ini sudah tutup. Alhamdulillah, pertolongan Allah sungguh dekat. Ada sepupu yang kuliah di ibukota propinsi---yang nyaris dilupakannya gara-gara panik setengah mati. Segera dihubungi sepupunya yang datang tak lama kemudian membawa kekurangan uang. Akhirnya satu lagi orang tau tentang rencana kuliahnya di negri Sakura...
Begitu amplop diterima si mbaknya -yang bilang kalo si amplop kemungkinan baru akan sampe hari senin- dada si Gadis terasa plong. Mau sampe hari senin juga gapapalah. Dimakan ikan paus di tengah jalan juga gapapa. Yang penting udah ga ada di tanganku lagi, bisik hati si Gadis. Tugasnya tinggal memberi tahu profesor kalo berkas-berkasnya sudah dikirim, dan meminta maaf karena kemungkinan akan sampai terlambat. Kalo diterima sukur…kalo ditolak ya udah…Mungkin ini yang terbaik, pikir si Gadis di perjalanan pulang ke kotanya.
***
Segera setelah sampai rumah, si Gadis menghubungi sang profesor, menceritakan kondisinya yang telat mengirimkan aplikasi dan menanyakan nasip suratnya, apakah akan diterima walaupun terlambat. Profesor baik hati itu benar-benar sudah khilaf rupanya. Beliau menyatakan akan membantu mengurus soal aplikasinya, dan sebagai cadangan dia diminta mengisi berkas-berkas soft copy dan mengirim balik ke profesornya. Si Gadis cuman bisa bengong sambil mengucap hamdalah membaca surat elektronik dari beliau. Menurut, diisinya formulir dan dikirimkannya balik. Namun pak profesor tetap menyatakan bahwa seleksi selanjutnya juga tergantung pihak universitas dan program yang akan diikutinya (kalo ketrima…). Ga ada jaminan apa-apa kalo dia bakal lolos. Si Gadispun tak berharap banyak bakal lolos. Secara dia tak memenuhi kualifikasi dalam hal kemampuan berbahasa jepang. Belum lagi essay tentang perekonomian jepang dan indonesia (makjang, baca koran aja kolom selebriti doang yang dibaca…ga pernah ngikutin berita ekonomi kecuali sesekali berdiskusi dengan si Mas), serta research project yang ditulisnya hanya dalam satu dua malam.
Merasa delapan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen ga bakal ketrima, si Gadis mencoba melupakan soal beasiswa. Dan saat-saat itulah para saudara dan tetangga mulai menanyainya “Kerja dimana?” (dijawab dengan senyuman, “Belum dapet kerja Bu, masi nyari…”) atau “Kapan nikahnya?” (lagi-lagi cuman tersenyum, “InsyaAllah setelah lebaran Pak…entah lebaran kapan tapinya…hehe…”). Tak bisa dipungkiri hatinya resah. Tak banyak teman sekampung yang bisa kuliah, tapi nyaris semuanya sudah bekerja…atau berkeluarga. Dia yang sudah kuliah jauh-jauh, pulang-pulang cuman jadi pengangguran. Tapi rencana Allah pasti indah, pilihan Allah pasti terbaik. Itu yang selalu dibisikkan hatinya.
Akhirnya tibalah tanggal pengumuman seleksi aplikasi dari universitas. Tak ada rasa deg-degan seperti saat dia mengecek pengumuman SPMB. Biasa saja. Karena dia merasa sudah pasti tak akan diterima. Iseng dicek imelnya di warnet. Dan…heu…kekhilafan kedua ternyata terjadi sodara-sodara…si Gadis cuman bisa plonga-plongo, ga ngerti musti bilang apa membaca isi imel dari penanggung jawab programnya soal lolosnya aplikasinya, dan akan segera memproses untuk seleksi beasiswa. Ini seriusan apa becanda sih? Si Gadis membatin sambil mencubit-cubit tangannya. Delapan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen keyakinan akan ketidak lolosan aplikasinya berkurang drastis menjadi dua pertiganya. Tapi perjalanan masih panjang. Entah apalagi yang akan diminta sebagai syarat mengajukan beasiswa. Entah apa depdikbud negri sakura pada akhirnya akan khilaf juga. Meski si profesor bilang bahwa kemungkinan besar depdikbud akan khilaf juga, who knows...
Keesokan harinya, setelah lebih dari satu bulan tak ketahuan nasip surat lamarannya, tiba-tiba datang panggilan dari pabrik obat di kota kelahirannya memintanya datang untuk wawancara. Dan si Gadis dilanda dilema...(hayah, bahasanya...)
No comments:
Post a Comment